BRIN: Teleskop ke Timau Akan Dipakai Pengamatan Satelit Buatan, selain Obyek Astronomi

Jakarta – Teleskop Observatorium Nasional Timau dalam Kupang, Nusa Tenggara Timur, akan digunakan juga untuk memantau satelit buatan selain obyek astronomi. “Juga dapat membantu apabila berlangsung hambatan pada satelit berpartisipasi atau contingency events,” kata Koordinator Stasiun Observasi Nasional Kupang, Badan Studi kemudian Inovasi Nasional (BRIN), Abdul Rachman ke acara webinar kompetisi Organisasi Studi Penerbangan juga Antariksa Badan Penelitian Inovasi Nasional terkait peringatan serius World Space Week, Hari Sabtu 5 Oktober 2024.
Dalam pengamatan satelit buatan, kata Abdul Rachman, teleskop yang digunakan juga metodenya berbeda dengan pengamatan obyek astronomi seperti bintang. Sebab, bintang relatif melakukan pergerakan lambat sedangkan satelit buatan tambahan cepat. Teleskopnya harus dipasangi dudukan atau motor mounting. “Agar teleskop bisa saja melakukan pergerakan otomatis lalu membantu kecepatan di hitungan derajat per detik atau custom rate,” ujarnya.
Rachman menunjukkan satelit International Space Station (ISS) yang dimaksud tergolong Low Earth Orbit atau LEO. Ketinggian satelit LEO berada pada kisaran 500 hingga 1.200 kilometer dari permukaan bumi. Pergerakan satelitnya sangat cepat lantaran ketinggiannya rendah. Dibandingkan misalnya dengan satelit Palapa atau Telkom yang digunakan tergolong Geostasioner Earth Orbit (GEO). Ketinggiannya bisa jadi mencapai 36 ribu kilometer dari permukaan bumi.
Menurut Rachman, beberapa teleskop yang tersebut telah lama terpasang ke Observatorium Nasional Timau telah terjadi dijajal untuk menangkap obyek satelit buatan pada kurun 2023-2024. Misalnya teleskop dengan diameter cermin 25 juga 50 sentimeter yang tersebut dari pabriknya sudah pernah dibuat dengan prasarana mounting robotic atau sanggup menggerakkan secara otomatis.
Sementara teleskop terbesar dalam Observatorium Nasional Timau, yang tersebut berdiameter 3,8 meter, masih pada tahap penyelesaian. Menurut Rachman, ditargetkan teleskop itu bisa saja rampung sebelum akhir tahun ini sehingga pada 2025 sudah ada mulai bisa jadi dioperasikan. “Teleskop itu mungkin untuk mengamati satelit buatan oleh sebab itu kecepatannya bisa jadi diatur,” ujarnya.
Selain itu, teleskop Seimei di Negeri Matahari Terbit sebagai kembaran teleskop Timau yang digunakan lebih tinggi dulu dipasang pada 2017-2018, telah lama digunakan untuk mengamati satelit buatan juga. Adapun pengamat nantinya dapat mengintai satelit buatan dengan mengacu pada prediksi harian keberadaan satelit buatan. Ada daftar tabel yang tersebut memuat satelit buatan yang mana aktif, magnitude atau tingkat kecerlangan bendanya, lokasinya di langit, hingga ketinggiannya.
Artikel ini disadur dari BRIN: Teleskop di Timau Akan Dipakai Pengamatan Satelit Buatan, selain Obyek Astronomi






