BI Ungkap Kemungkinan Perekonomian Syariah Bisa Capai US$ 3 Ribu Miliar ke 2027

Jakarta – Deputi Pemuka Senior Bank Negara Indonesia (BI) Destry Damayanti mengemukakan Indonesia harus mengembangkan sektor dunia usaha serta keuangan syariah. Menurut Destry, peluang dari sektor kegiatan ekonomi syariah ini amat besar.
“Kita lihat sekarang gaya hidup berbasis value atau syariah compliance terus meningkat,” kata Destry di pidatonya pada Opening Ceremony FESyar Jawa 2024, Jumat, (13/9/2024).
Destry menyatakan berdasarkan laporan dari State of Global Islamic Economy (SGIE), nilai sektor ekonomi terkait syariah terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Dia mengutarakan pada 2022, pengeluaran konsumsi baik makanan, fashion, dan juga travelling yang digunakan berbasis syariah compliance mencapai US$ 2,29 triliun.
Dia menyatakan bilangan bulat itu akan terus naik hingga mencapai US$ 3 triliun pada 2027. “Jadi akan terus mengalami peningkatan secara continue dari 7-9%, jadi ini menyita perhatian sekali,” kata dia.
Destry meyakini peluang perekonomian syariah di Nusantara juga sangat besar. Terlebih Nusantara merupakan negara dengan total muslim terbesar kedua, dengan nomor 235 jt orang. “Muslim sangat dominan di dalam kita,” kata dia.
Selain itu, Destry mengutarakan kemungkinan pengembangan kegiatan ekonomi syariah ke Indonesia juga amat didorong oleh pengaruh digitalisasi. Dia mengutarakan 70% populasi ke Negara Indonesia adalah kalangan muda yang tersebut sangat melek teknologi. Dengan begitu, kata dia, pengembangan ekonomi syariah akan sangat terbantu dengan langkah-langkah digitalisasi ini.
“Gen Z lalu Alpha pada waktu bangun itu telah segera kenal dengan digital,” kata dia.
Next Article Selamat! Sumatera Barat Juara Kondisi Keuangan Syariah 2024
Artikel ini disadur dari BI Ungkap Potensi Ekonomi Syariah Bisa Capai US$ 3 Triliun di 2027






