Pupuk Negara Indonesia sambut usulan singkong jadi komoditas penerima subsidi

Ibukota Indonesia – PT Pupuk Tanah Air Persero menyambut usulan dari pemangku kepentingan, salah satunya Publik Singkong Negara Indonesia (MSI), yang digunakan berharap singkong menjadi komoditas yang digunakan mendapatkan alokasi pupuk bersubsidi dari pemerintah.
Hal itu disampaikan Direktur Pemasaran Pupuk Negara Indonesia Tri Wahyudi Saleh di acara Focus Group Discussion (FGD) "Strategi Pengembangan Produktivitas Singkong serta Kebijakan Support Pupuk Bersubsidi untuk Petani" ke Palembang, Sumatera Selatan, sebagaimana keterangan diterima ke Jakarta, Rabu.
"FGD ini dilaksanakan untuk menggali keadaan di dalam lapangan kemudian merumuskan strategi peningkatan produktivitas vegetasi singkong lalu kebijakan dukungan pupuk bersubsidi untuk petani singkong sebagai salah satu komoditas strategis dalam wilayah Sumatera Bagian Selatan," kata dia.
Tri mengutarakan Pupuk Negara Indonesia terus berupaya mengoptimalkan penyerapan pupuk bersubsidi dengan mengidentifikasi komoditas pertanian strategis, salah satunya singkong. Dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 1 Tahun 2024, kata Tri, terdapat sembilan komoditas sebagai penerima pupuk bersubsidi, terdiri dari padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, tebu rakyat, kopi, kemudian kakao. Sementara itu, pada awal tahun 2024 pemerintah sudah menambah alokasi pupuk bersubsidi dari alokasi awal 4,7 jt ton berubah menjadi 9,55 jt ton.
"Kebijakan penambahan ukuran ini diperlukan upaya optimalisasi di meningkatkan serapannya. Optimalisasi dapat diwujudkan dengan mengidentifikasi komoditas-komoditas strategis area yang digunakan memiliki kemungkinan mendapatkan pupuk bersubsidi. Harapannya berdampak terhadap optimalisasi serapan pupuk bersubsidi, nilai sektor ekonomi kemudian peningkatan produktivitas pertanian," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa singkong yang digunakan juga dikenal sebagai ubi kayu dapat dikategorikan sebagai komoditas alternatif pangan yang tersebut memiliki zat karbohidrat setara beras. Tanah Air sendiri menduduki urutan kelima sebagai negara produsen singkong terbesar dalam dunia, dengan total produksi 18,3 jt ton. Produksi yang disebutkan setara dengan 87 persen untuk keinginan nasional.
Sebagian besar atau 97 persen produksi ubi kayu digunakan untuk pangan. Hal ini menunjukkan bahwa ubi kayu mempunyai peran strategis sebagai penyangga pangan nasional. Untuk itu, kata Tri, upaya peningkatan produktivitas singkong harus diwujudkan pada rangka memperkuat inisiatif ketahanan pangan nasional.
“Komponen budi daya yang mana berperan di peningkatan produktivitas singkong adalah penyelenggaraan pupuk yang dimaksud sesuai dengan keperluan tanaman, varietas yang mana sesuai (tahan cekaman biotik dan juga abiotik), dan juga pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan),” kata dia.
Tri juga memaparkan bahwa Pupuk Tanah Air mempunyai teknologi memformulasikan pupuk NPK sesuai dengan spesifikasi atau keinginan tumbuhan yang dimaksud miliki NPK khusus tumbuhan singkong, yaitu NPK 17-6-25. Pupuk ini memiliki isi Nitrogen 17 persen, Phosphatase 6 persen, kemudian KCL 25 persen.
Berdasarkan hasil uji coba ke banyak daerah, khususnya pada Sumatera, pengaplikasian pupuk ini mampu meningkatkan produktivitas vegetasi singkong. Rata-rata hasil panen petani singkong pada pada waktu pengaplikasian pupuk yang dimaksud sebesar 45 ton/hektare, dari rata-rata panen sebelumnya 27 hingga 28 ton/hektare.
"Petani singkong yang mana sebelumnya mendapatkan pupuk bersubsidi mampu terobati dengan penampilan NPK singkong. Persoalannya apakah pupuk ini bisa saja masuk ke di skema subsidi, ini yang tersebut harus kita diskusikan pada FGD. Pastinya pupuk ini dapat digunakan oleh petani di pemupukan secara efisien juga berimbang sehingga dapat meningkatkan produktivitas singkong," pungkas Tri Wahyudi.
Adapun bukti lain dari perhatian Pupuk Indonesia terhadap komoditas singkong, kata dia, adalah demonstration plot (demplot) di dalam lahan bekas tambang timah yang digunakan ada pada Bangka Belitung. Lahan bekas tambang yang disebutkan dikembalikan kesuburannya dengan menggunakan produk-produk Pupuk Indonesia sehingga dapat dimanfaatkan untuk budidaya singkong. Pertemuan budi daya yang disebutkan juga menggunakan NPK singkong.
Pupuk Indonesi juga menciptakan Kampung Singkong dalam Lampung Tengah, tepatnya di dalam Desa Sriwijaya Mataram, Kec. Bandar Mataram. Desa ini berubah jadi percontohan pengembangan komoditas singkong yang dimaksud diwujudkan Pupuk Indonesia.
“Petani singkong membutuhkan pendampingan yang tersebut berkesinambungan kemudian bantuan subsidi pupuk dengan formula NPK 17-6-25, agar produksi besar juga kelestarian lahan pertanian terjaga,” kata Tri Wahyudi.
Diskusi Group Discussion mengenai "Strategi Pembaruan Produktivitas Singkong serta Kebijakan Pendukung Pupuk Bersubsidi untuk Petani" ini dihadiri oleh Asisten Deputi Prasarana kemudian Sarana Pangan serta Agribisnis Kementerian Koordinator Lingkup Perekonomian Ismariny, Direktur Pupuk lalu Pestisida Kementerian Pertanian Jekvy Hendra, Kepala Balai Pengujian Standar Instrumen (BPSI) Tanah dan juga Pupuk, Ladiyani Retno Widowati, Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja Palembang Daconi Khotob. Ketua 1 Area Pengembangunan Bisnis & Sistem Komunitas Singkong Indonesia, Helmi Hasanudin.
Selanjutnya Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan kemudian Hortikultura Provinsi Sumatera Selatan Bambang Pramono, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan juga Hortikultura Provinsi Lampung Bani Isproyanto, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sriwidjaja, A. Muslim, dan juga perwakilan kepala dinas pertanian kabupaten kemudian kota Provinsi Sumatera Selatan.
Artikel ini disadur dari Pupuk Indonesia sambut usulan singkong jadi komoditas penerima subsidi






