Kesehatan

Surat Ali Imran Full: Arab, Latin lalu Terjemahannya

Jakarta – Surat Ali Imran merupakan surat ketiga pada Al-Qur’an. Surat ini diturunkan pasca Surat Al-Anfal.

Surat Ali Imran diwahyukan pada tahun 9 Hijriyah ke Perkotaan Madinah, sehingga termasuk di golongan Surat Madaniyyah. Nama “Ali Imran” berarti “Keluarga Imran,” kemudian surat ini dinamakan demikian lantaran memuat kisah tentang Keluarga Imran, yaitu ayah dari Maryam.

Surat Ali Imran terdiri dari 200 ayat dan juga dikenal dengan sebutan Az-Zahraawani (dua yang tersebut cemerlang) bersatu dengan Surat Al-Baqarah. Keduanya disebut demikian lantaran mengungkap hal-hal yang disembunyikan oleh ahli kitab, seperti kelahiran Nabi Isa Negeri Paman Sam serta kedatangan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah, dan juga lainnya.

Mengutip dari quran.nu.or.id, berikut Surat Ali ‘Imran full latin, arti dan juga terjemahannya

الۤمّۤ ۝١

alif lâm mîm

Alif Lām Mīm.

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُۗ ۝٢

allâhu lâ ilâha illâ huwal-ḫayyul-qayyûm

Allah, tidak ada ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus (makhluk-Nya) secara terus-menerus.

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَاَنْزَلَ التَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَۙ ۝٣

nazzala ‘alaikal-kitâba bil-ḫaqqi mushaddiqal limâ baina yadaihi wa anzalat-taurâta wal-injîl

Dia menurunkan kepadamu (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) dengan hak, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, dan juga sudah pernah menurunkan Taurat kemudian Injil

مِنْ قَبْلُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَاَنْزَلَ الْفُرْقَانَ ەۗ اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ ذُو انْتِقَامٍۗ ۝٤

ming qablu hudal lin-nâsi wa anzalal-furqân, innalladzîna kafarû bi’âyâtillâhi lahum ‘adzâbun syadîd, wallâhu ‘azîzun dzuntiqâm

Sebelum (turunnya Al-Qur’an) sebagai petunjuk bagi manusia, dan juga menurunkan Al-Furqān (pembeda yang dimaksud hak lalu yang tersebut batil). Sesungguhnya orang-orang yang mana kufur terhadap ayat-ayat Allah, bagi mereka itu azab yang digunakan sangat keras. Allah Mahaperkasa lagi mempunyai balasan (siksa).

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَخْفٰى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ ۝٥

innallâha lâ yakhfâ ‘alaihi syai’un fil-ardli wa lâ fis-samâ’

Sesungguhnya bagi Allah tak ada sesuatu pun yang tersebut tersembunyi dalam bumi dan juga tak pula di dalam langit.

هُوَ الَّذِيْ يُصَوِّرُكُمْ فِى الْاَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاۤءُۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ۝٦

huwalladzî yushawwirukum fil-ar-ḫâmi kaifa yasyâ’, lâ ilâha illâ huwal-‘azîzul-ḫakîm

Dialah (Allah) yang digunakan membentuk kamu di rahim sebagaimana yang Dia kehendaki. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاۤءَ تَأْوِيْلِهٖۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُۘ وَالرّٰسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَاۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ ۝٧

huwalladzî anzala ‘alaikal-kitâba min-hu âyâtum muḫkamâtun hunna ummul-kitâbi wa ukharu mutasyâbihât, fa ammalladzîna fî qulûbihim zaighun fayattabi’ûna mâ tasyâbaha min-hubtighâ’al-fitnati wabtighâ’a ta’wîlih, wa mâ ya’lamu ta’wîlahû illallâh, war-râsikhûna fil-‘ilmi yaqûlûna âmannâ bihî kullum min ‘indi rabbinâ, wa mâ yadzdzakkaru illâ ulul-albâb

Dialah (Allah) yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad). Di antara ayat-ayatnya ada yang dimaksud muhkamat, itulah pokok-pokok isi Kitab (Al-Qur’an) kemudian yang dimaksud lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang mana di hatinya ada kecenderungan pada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang dimaksud mutasyabihat untuk mengakibatkan fitnah (kekacauan juga keraguan) serta untuk mencari-cari takwilnya. Padahal, bukan ada yang dimaksud mengetahui takwilnya, kecuali Allah. Orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari Tuhan kami.” Tidak ada yang dimaksud dapat mengambil pelajaran, kecuali ululalbab.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةًۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ ۝٨

rabbanâ lâ tuzigh qulûbanâ ba’da idz hadaitanâ wa hab lanâ mil ladungka raḫmah, innaka antal-wahhâb(Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelahnya Engkau berikan petunjuk untuk kami serta anugerahkanlah terhadap kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.

رَبَّنَآ اِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَّا رَيْبَ فِيْهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيْعَادَࣖ ۝٩

rabbanâ innaka jâmi’un-nâsi liyaumil lâ raiba fîh, innallâha lâ yukhliful-mî’âdWahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah yang mana mengoleksi manusia pada hari yang tersebut tidaklah ada keraguan padanya.” Sesungguhnya Allah bukan menyalahi janji.

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ اَمْوَالُهُمْ وَلَآ اَوْلَادُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ وَقُوْدُ النَّارِۗ ۝١٠

innalladzîna kafarû lan tughniya ‘an-hum amwâluhum wa lâ aulâduhum minallâhi syai’â, wa ulâ’ika hum waqûdun-nârSesungguhnya orang-orang yang tersebut kufur, tidaklah akan berguna bagi dia sedikit pun harta benda lalu anak-anak merek (untuk menyelamatkan diri) dari (azab) Allah. Mereka itulah materi bakar api neraka.

كَدَأْبِ اٰلِ فِرْعَوْنَۙ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۗ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۚ فَاَخَذَهُمُ اللّٰهُ بِذُنُوْبِهِمْۗ وَاللّٰهُ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ۝١١

kada’bi âli fir’auna walladzîna ming qablihim, kadzdzabû bi’âyâtinâ, fa akhadzahumullâhu bidzunûbihim, wallâhu syadîdul-‘iqâb

(Keadaan mereka) seperti keadaan pengikut Fir’aun kemudian orang-orang sebelum mereka. Mereka mendustakan ayat-ayat Kami. Oleh sebab itu, Allah menyiksa merekan oleh sebab itu dosa-dosanya. Allah sangat keras hukuman-Nya.

قُلْ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَتُغْلَبُوْنَ وَتُحْشَرُوْنَ اِلٰى جَهَنَّمَۗ وَبِئْسَ الْمِهَادُ ۝١٢

qul lilladzîna kafarû satughlabûna wa tuḫsyarûna ilâ jahannam, wa bi’sal-mihâd

Katakanlah (Nabi Muhammad) terhadap orang-orang yang tersebut kufur, “Kamu (pasti) akan dikalahkan dan juga digiring ke di (neraka) Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.”

قَدْ كَانَ لَكُمْ اٰيَةٌ فِيْ فِئَتَيْنِ الْتَقَتَاۗ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَاُخْرٰى كَافِرَةٌ يَّرَوْنَهُمْ مِّثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِۗ وَاللّٰهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ ۝١٣

qad kâna lakum âyatun fî fi’atainiltaqatâ, fi’atun tuqâtilu fî sabîlillâhi wa ukhrâ kâfiratuy yaraunahum mitslaihim ra’yal-‘aîn, wallâhu yu’ayyidu binashrihî may yasyâ’, inna fî dzâlika la’ibratal li’ulil-abshâr

Sungguh, telah terjadi ada tanda (bukti) bagimu pada dua golongan yang bertemu (dalam pertempuran. Satu golongan berperang dalam jalan Allah serta (golongan) yang tersebut lain kafir yang dimaksud mengamati dengan mata kepala bahwa merek (golongan muslim) dua kali lipat jumlahnya. Allah menguatkan siapa yang digunakan Dia kehendaki dengan pertolongan-Nya. Sesungguhnya pada yang mana demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang dimaksud mempunyai penglihatan (mata hati).

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ ۝١٤

zuyyina lin-nâsi ḫubbusy-syahawâti minan-nisâ’i wal-banîna wal-qanathîril-muqantharati minadz-dzahabi wal-fidldlati wal-khailil-musawwamati wal-an’âmi wal-ḫarts, dzâlika matâ’ul-ḫayâtid-dun-yâ, wallâhu ‘indahû ḫusnul-ma’âb

Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang dimaksud dalam bentuk perempuan, anak-anak, harta benda yang tersebut bertimbun tak terhingga merupakan emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan juga sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di bumi serta pada sisi Allahlah tempat kembali yang mana baik.

۞ قُلْ اَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِّنْ ذٰلِكُمْۗ لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَاَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِۚ ۝١٥

qul a unabbi’ukum bikhairim min dzâlikum, lilladzînattaqau ‘inda rabbihim jannâtun tajrî min taḫtihal-an-hâru khâlidîna fîhâ wa azwâjum muthahharatuw wa ridlwânum minallâh, wallâhu bashîrum bil-‘ibâd

Katakanlah, “Maukah aku beri tahukan kepadamu sesuatu yang dimaksud lebih lanjut baik daripada yang mana demikian itu?” Untuk orang-orang yang mana bertakwa, di dalam sisi Tuhan mereka itu ada surga-surga yang mengalir ke bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal ke dalamnya dan juga (untuk mereka) pasangan yang digunakan disucikan dan juga rida Allah. Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.

اَلَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اِنَّنَآ اٰمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِۚ ۝١٦

alladzîna yaqûlûna rabbanâ innanâ âmannâ faghfir lanâ dzunûbanâ wa qinâ ‘adzâban-nâr

(Yaitu) orang-orang yang digunakan berdoa, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami benar-benar telah lama beriman. Maka, ampunilah dosa-dosa kami lalu selamatkanlah kami dari azab neraka.”

اَلصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْمُنْفِقِيْنَ وَالْمُسْتَغْفِرِيْنَ بِالْاَسْحَارِ ۝١٧

ash-shâbirîna wash-shâdiqîna wal-qânitîna wal-munfiqîna wal-mustaghfirîna bil-as-ḫâr

(Juga) orang-orang yang tersebut sabar, benar, taat, lalu berinfak, dan juga memohon ampunan pada akhir malam.

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًا ۢ بِالْقِسْطِۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ۝١٨

syahidallâhu annahû lâ ilâha illâ huwa wal-malâ’ikatu wa ulul-‘ilmi qâ’imam bil-qisth, lâ ilâha illâ huwal-‘azîzul-ḫakîm

Allah menyatakan bahwa tidaklah ada tuhan selain Dia, (Allah) yang mana menegakkan keadilan. (Demikian pula) para malaikat serta warga berilmu. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا ۢ بَيْنَهُمْۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ۝١٩innad-dîna ‘indallâhil-islâm, wa makhtalafalladzîna ûtul-kitâba illâ mim ba’di mâ jâ’ahumul-‘ilmu baghyam bainahum, wa may yakfur bi’âyâtillâhi fa innallâha sarî’ul-ḫisâb

Sesungguhnya agama (yang diridai) ke sisi Allah ialah Islam. Orang-orang yang sudah pernah diberi kitab tidak ada berselisih, kecuali pasca datang pengetahuan untuk mereka sebab kedengkian dalam antara mereka. Siapa yang digunakan kufur terhadap ayat-ayat Allah, sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan(-Nya).

فَاِنْ حَاۤجُّوْكَ فَقُلْ اَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلّٰهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِۗ وَقُلْ لِّلَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَالْاُمِّيّٖنَ ءَاَسْلَمْتُمْۗ فَاِنْ اَسْلَمُوْا فَقَدِ اهْتَدَوْاۚ وَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلٰغُۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِࣖ ۝٢٠

fa in ḫâjjûka fa qul aslamtu waj-hiya lillâhi wa manittaba’an, wa qul lilladzîna ûtul-kitâba wal-ummiyyîna a aslamtum, fa in aslamû fa qadihtadau, wa in tawallau fa innamâ ‘alaikal-balâgh, wallâhu bashîrum bil-‘ibâd

Jika mereka itu mendebat engkau (Nabi Muhammad) katakanlah, “Aku berserah diri terhadap Allah dan juga (demikian pula) orang-orang yang tersebut mengikutiku.” Katakanlah terhadap orang-orang (Yahudi serta Nasrani) yang tersebut telah dilakukan diberi Kitab (Taurat juga Injil) lalu untuk orang-orang yang digunakan umi, “Sudahkah kamu masuk Islam?” Jika merekan telah dilakukan masuk Islam, sungguh merekan telah terjadi mendapat petunjuk. Akan tetapi, jikalau merek berpaling, sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.

اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِحَقٍّۖ وَّيَقْتُلُوْنَ الَّذِيْنَ يَأْمُرُوْنَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِۙ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍ ۝٢١

innalladzîna yakfurûna bi’âyâtillâhi wa yaqtulûnan-nabiyyîna bighairi ḫaqqiw wa yaqtulûnalladzîna ya’murûna bil-qisthi minan-nâsi fa basysyir-hum bi’adzâbin alîm

Sesungguhnya orang-orang yang digunakan kufur terhadap ayat-ayat Allah, membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang mana benar), lalu membunuh manusia yang digunakan memerintahkan keadilan, sampaikanlah terhadap mereka kabar ‘gembira’ tentang azab yang dimaksud pedih.

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۖ وَمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ ۝٢٢

ulâ’ikalladzîna ḫabithat a’mâluhum fid-dun-yâ wal-âkhirati wa mâ lahum min nâshirîn

Mereka itulah orang-orang yang mana amalnya sia-sia di dalam bumi juga pada akhirat juga tak ada bagi merekan satu penolong pun.

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ اُوْتُوْا نَصِيْبًا مِّنَ الْكِتٰبِ يُدْعَوْنَ اِلٰى كِتٰبِ اللّٰهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلّٰى فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ وَهُمْ مُّعْرِضُوْنَ ۝٢٣

a lam tara ilalladzîna ûtû nashîbam minal-kitâbi yud’auna ilâ kitâbillâhi liyaḫkuma bainahum tsumma yatawallâ farîqum min-hum wa hum mu’ridlûn

Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) memerhatikan orang-orang (Yahudi) yang mana sudah diberi bagian (pengetahuan) kitab (Taurat)? Mereka diajak (berpegang) pada kitab Allah untuk memutuskan (perkara) dalam antara mereka, kemudian segolongan dari merekan berpaling juga menolak (kebenaran).

ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ اِلَّآ اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۖ وَّغَرَّهُمْ فِيْ دِيْنِهِمْ مَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ ۝٢٤

dzâlika bi’annahum qâlû lan tamassanan-nâru illâ ayyâmam ma’dûdâtiw wa gharrahum fî dînihim mâ kânû yaftarûn

Demikian itu disebabkan bahwa merek berkata, “Api neraka tak akan menyentuh kami, kecuali beberapa hitungan hari saja.” Mereka teperdaya pada agamanya oleh apa yang digunakan terus-menerus merekan ada-adakan.

فَكَيْفَ اِذَا جَمَعْنٰهُمْ لِيَوْمٍ لَّا رَيْبَ فِيْهِۗ وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ ۝٢٥

fa kaifa idzâ jama’nâhum liyaumil lâ raiba fîh, wa wuffiyat kullu nafsim mâ kasabat wa hum lâ yudhlamûnBagaimanakah (nanti) apabila mereka Kami kumpulkan pada hari (Kiamat) yang mana tak ada keraguan padanya juga setiap jiwa diberi balasan yang digunakan sempurna sesuai dengan apa yang mana telah dilakukan dikerjakannya tanpa dizalimi?

قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ۝٢٦

qulillâhumma mâlikal-mulki tu’til-mulka man tasyâ’u wa tanzi’ul-mulka mim man tasyâ’u wa tu’izzu man tasyâ’u wa tudzillu man tasyâ’, biyadikal-khaîr, innaka ‘alâ kulli syai’ing qadîr

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan untuk siapa pun yang digunakan Engkau kehendaki juga Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang digunakan Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang dimaksud Engkau kehendaki kemudian Engkau hinakan siapa yang digunakan Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa melawan segala sesuatu.

تُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَتُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ۝٢٧

tûlijul-laila fin-nahâri wa tûlijun-nahâra fil-laili wa tukhrijul-ḫayya minal-mayyiti wa tukhrijul-mayyita minal-ḫayyi wa tarzuqu man tasyâ’u bighairi ḫisâb

Engkau masukkan di malam hari ke pada siang kemudian Engkau masukkan siang ke pada malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mana berakhir serta Engkau keluarkan yang dimaksud meninggal dari yang dimaksud hidup. Engkau berikan rezeki terhadap siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan.”

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّٰهِ فِيْ شَيْءٍ اِلَّآ اَنْ تَتَّقُوْا مِنْهُمْ تُقٰىةًۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗۗ وَاِلَى اللّٰهِ الْمَصِيْرُ ۝٢٨l

â yattakhidzil-mu’minûnal-kâfirîna auliyâ’a min dûnil-mu’minîn, wa may yaf’al dzâlika fa laisa minallâhi fî syai’in illâ an tattaqû min-hum tuqâh, wa yuḫadzdzirukumullâhu nafsah, wa ilallâhil-mashîr

Janganlah orang-orang mukmin menjadikan pendatang kafir sebagai para wali dengan mengesampingkan orang-orang mukmin. Siapa yang melakukan itu, hal itu identik sekali bukanlah dari (ajaran) Allah, kecuali untuk mempertahankan diri dari sesuatu yang digunakan kamu takuti dari mereka. Allah mengingatkan kamu tentang diri-Nya (siksa-Nya). Hanya terhadap Allah tempat kembali.

قُلْ اِنْ تُخْفُوْا مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ اَوْ تُبْدُوْهُ يَعْلَمْهُ اللّٰهُۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ۝٢٩

qul in tukhfû mâ fî shudûrikum au tubdûhu ya’lam-hullâh, wa ya’lamu mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, wallâhu ‘alâ kulli syai’ing qadîr

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada pada hatimu atau kamu menampakkannya, Allah pasti mengetahuinya.” Dia mengetahui apa yang ada ke langit lalu apa yang dimaksud ada di dalam bumi. Allah Mahakuasa melawan segala sesuatu.

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًاۛ وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْۤءٍۛ تَوَدُّ لَوْ اَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهٗٓ اَمَدًا ۢ بَعِيْدًاۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗۗ وَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِࣖ ۝٣٠

yauma tajidu kullu nafsim mâ ‘amilat min khairim muḫdlaraw wa mâ ‘amilat min sû’, tawaddu lau anna bainahâ wa bainahû amadam ba’îdâ, wa yuḫadzdzirukumullâhu nafsah, wallâhu ra’ûfum bil-‘ibâd

(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) berhadapan dengan kebajikan yang digunakan sudah pernah dikerjakannya dihadirkan, (begitu juga balasan) berhadapan dengan kejahatan yang tersebut sudah pernah ia kerjakan. Dia berharap seandainya ada jarak yang sangat jauh antara ia dan juga hari itu. Allah mengingatkan kamu akan (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٣١

qul ing kuntum tuḫibbûnallâha fattabi’ûnî yuḫbibkumullâhu wa yaghfir lakum dzunûbakum, wallâhu ghafûrur raḫîm

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu juga mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَۚ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْكٰفِرِيْنَ ۝٣٢

qul athî’ullâha war-rasûl, fa in tawallau fa innallâha lâ yuḫibbul-kâfirîn

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Taatilah Allah serta Rasul(-Nya). Jika kamu berpaling, sesungguhnya Allah tidaklah menyukai orang-orang kafir.”

۞ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىٓ اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰلَ عِمْرٰنَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ ۝٣٣

innallâhashthafâ âdama wa nûḫaw wa âla ibrâhîma wa âla ‘imrâna ‘alal-‘âlamîn

Sesungguhnya Allah sudah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan juga keluarga Imran melawan seluruh alam (manusia pada zamannya masing-masing).

ذُرِّيَّةً ۢ بَعْضُهَا مِنْۢ بَعْضٍۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۚ ۝٣٤

dzurriyyatam ba’dluhâ mim ba’dl, wallâhu samî’un ‘alîm

(Mereka adalah) satu keturunan, sebagiannya adalah (keturunan) dari sebagian yang tersebut lain. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

اِذْ قَالَتِ امْرَاَتُ عِمْرٰنَ رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّيْۚ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ۝٣٥

idz qâlatimra’atu ‘imrâna rabbi innî nadzartu laka mâ fî bathnî muḫarraran fa taqabbal minnî, innaka antas-samî’ul-‘alîm

(Ingatlah) sewaktu istri Imran berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu apa yang tersebut ada di pada kandunganku murni untuk-Mu (berkhidmat di Baitulmaqdis). Maka, terimalah (nazar itu) dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ وَضَعْتُهَآ اُنْثٰىۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْۗ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْاُنْثٰىۚ وَاِنِّيْ سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَاِنِّيْٓ اُعِيْذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ ۝٣٦fa lammâ wadla’at-hâ qâlat rabbi innî wadla’tuhâ untsâ, wallâhu a’lamu bimâ wadla’at, wa laisadz-dzakaru kal-untsâ, wa innî sammaituhâ maryama wa innî u’îdzuhâ bika wa dzurriyyatahâ minasy-syaithânir-rajîm

Ketika melahirkannya, beliau berkata, “Wahai Tuhanku, aku telah dilakukan melahirkan anak perempuan.” Padahal, Allah lebih tinggi tahu apa yang digunakan beliau (istri Imran) lahirkan. “Laki-laki tidaklah sebanding dengan perempuan. Aku memberinya nama Maryam juga memohon perlindungan-Mu untuknya kemudian anak cucunya dari setan yang digunakan terkutuk.”

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُوْلٍ حَسَنٍ وَّاَنْۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًاۖ وَّكَفَّلَهَا زَكَرِيَّاۗ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَۙ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًاۚ قَالَ يٰمَرْيَمُ اَنّٰى لَكِ هٰذَاۗ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ۝٣٧

fa taqabbalahâ rabbuhâ biqabûlin ḫasaniw wa ambatahâ nabâtan ḫasanaw wa kaffalahâ zakariyyâ, kullamâ dakhala ‘alaihâ zakariyyal-miḫrâba wajada ‘indahâ rizqâ, qâla yâ maryamu annâ laki hâdzâ, qâlat huwa min ‘indillâh, innallâha yarzuqu may yasyâ’u bighairi ḫisâb

Dia (Allah) menerimanya (Maryam) dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang mana baik, dan juga mengutarakan pemeliharaannya terhadap Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemui di mihrabnya, beliau mendapati makanan pada sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki untuk siapa yang tersebut Dia kehendaki tanpa perhitungan.

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهٗۚ قَالَ رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةًۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ ۝٣٨

hunâlika da’â zakariyyâ rabbah, qâla rabbi hab lî mil ladungka dzurriyyatan thayyibah, innaka samî’ud-du’â’

Di sanalah Zakaria berdoa untuk Tuhannya. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, karuniakanlah kepadaku keturunan yang dimaksud baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”

فَنَادَتْهُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَهُوَ قَاۤىِٕمٌ يُّصَلِّيْ فِى الْمِحْرَابِۙ اَنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيٰى مُصَدِّقًا ۢ بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَسَيِّدًا وَّحَصُوْرًا وَّنَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ ۝٣٩

fa nâdat-hul-malâ’ikatu wa huwa qâ’imuy yushallî fil-miḫrâbi annallâha yubasysyiruka biyaḫyâ mushaddiqam bikalimatim minallâhi wa sayyidaw wa ḫashûraw wa nabiyyam minash-shâliḫîn

Lalu, Malaikat (Jibril) memanggilnya ketika ia berdiri melaksanakan salat di dalam mihrab, “Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya yang mana membenarkan kalimat dari Allah, (menjadi) anutan, menahan diri (dari hawa nafsu), lalu seseorang nabi dalam antara orang-orang saleh.”

قَالَ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ غُلٰمٌ وَّقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَاَتِيْ عَاقِرٌۗ قَالَ كَذٰلِكَ اللّٰهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاۤءُ ۝٤٠

qâla rabbi annâ yakûnu lî ghulâmuw wa qad balaghaniyal-kibaru wamra’atî ‘âqir, qâla kadzâlikallâhu yaf’alu mâ yasyâ’

Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku dapat mendapat anak, sedangkan aku telah sangat tua serta istriku pun mandul?” (Allah) berfirman, “Demikianlah, Allah melakukan apa yang digunakan Dia kehendaki.”

قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِّيْٓ اٰيَةًۗ قَالَ اٰيَتُكَ اَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلٰثَةَ اَيَّامٍ اِلَّا رَمْزًاۗ وَاذْكُرْ رَّبَّكَ كَثِيْرًا وَّسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَارِࣖ ۝٤١

qâla rabbij’al lî âyah, qâla âyatuka allâ tukalliman-nâsa tsalâtsata ayyâmin illâ ramzâ, wadzkur rabbaka katsîraw wa sabbiḫ bil-‘asyiyyi wal-ibkâr

Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah aku suatu tanda (kehamilan istriku).” Allah berfirman, “Tandanya bagimu adalah engkau tidaklah (dapat) berbicara dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya kemudian bertasbihlah pada waktu petang dan juga pagi hari.”

وَاِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفٰىكِ عَلٰى نِسَاۤءِ الْعٰلَمِيْنَ ۝٤٢

wa idz qâlatil-malâ’ikatu yâ maryamu innallâhashthafâki wa thahharaki washthafâki ‘alâ nisâ’il-‘âlamîn

(Ingatlah) di mana Malaikat (Jibril) berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah sudah pernah memilihmu, menyucikanmu, dan juga melebihkanmu di berhadapan dengan seluruh perempuan di dalam semesta alam (pada masa itu).

يٰمَرْيَمُ اقْنُتِيْ لِرَبِّكِ وَاسْجُدِيْ وَارْكَعِيْ مَعَ الرّٰكِعِيْنَ ۝٤٣

yâ maryamuqnutî lirabbiki wasjudî warka’î ma’ar-râki’în

Wahai Maryam, taatlah untuk Tuhanmu, sujudlah, kemudian rukuklah bersatu orang-orang yang dimaksud rukuk.”

ذٰلِكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الْغَيْبِ نُوْحِيْهِ اِلَيْكَۗ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ اِذْ يُلْقُوْنَ اَقْلَامَهُمْ اَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَۖ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ اِذْ يَخْتَصِمُوْنَ ۝٤٤

dzâlika min ambâ’il-ghaibi nûḫîhi ilaîk, wa mâ kunta ladaihim idz yulqûna aqlâmahum ayyuhum yakfulu maryama wa mâ kunta ladaihim idz yakhtashimûn

Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang mana Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad). Padahal, engkau tak sama-sama mereka itu saat mereka itu melemparkan pena mereka (untuk mengundi) siapa di dalam antara mereka yang dimaksud akan memelihara Maryam juga engkau bukan sama-sama merekan saat mereka itu bersengketa.

اِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِّنْهُۖ اسْمُهُ الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيْهًا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَۙ ۝٤٥

idz qâlatil-malâ’ikatu yâ maryamu innallâha yubasysyiruki bikalimatim min-husmuhul-masîḫu ‘îsabnu maryama wajîhan fid-dun-yâ wal-âkhirati wa minal-muqarrabîn

(Ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang (kelahiran anak yang mana diciptakan) dengan kalimat dari-Nya, namanya Isa Almasih putra Maryam, seseorang terkemuka pada bola dan juga di dalam akhirat dan juga salah satunya orang-orang yang dimaksud didekatkan (kepada Allah).

وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِى الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَّمِنَ الصّٰلِحِيْنَ ۝٤٦

wa yukallimun-nâsa fil-mahdi wa kahlaw wa minash-shâliḫîn

Dia berbicara dengan manusia (sewaktu) pada buaian serta sewaktu sudah ada dewasa dan juga di antaranya orang-orang saleh.”

قَالَتْ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ وَلَدٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌۗ قَالَ كَذٰلِكِ اللّٰهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۗ اِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ۝٤٧

qâlat rabbi annâ yakûnu lî waladuw wa lam yamsasnî basyar, qâla kadzâlikillâhu yakhluqu mâ yasyâ’, idzâ qadlâ amran fa innamâ yaqûlu lahû kun fa yakûn

Dia (Maryam) berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kemungkinan besar aku akan mempunyai anak, padahal tiada ada orang laki-laki pun yang dimaksud menyentuhku?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki.” Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya sekali berkata padanya, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu.

وَيُعَلِّمُهُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَۚ ۝٤٨

wa yu’allimuhul-kitâba wal-ḫikmata wat-taurâta wal-injîl

Dia (Allah) mengajarkan kepadanya (Isa) kitab, hikmah, Taurat, dan juga Injil.

وَرَسُوْلًا اِلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ەۙ اَنِّيْ قَدْ جِئْتُكُمْ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْۙ اَنِّيْٓ اَخْلُقُ لَكُمْ مِّنَ الطِّيْنِ كَهَيْـَٔةِ الطَّيْرِ فَاَنْفُخُ فِيْهِ فَيَكُوْنُ طَيْرًا ۢ بِاِذْنِ اللّٰهِۚ وَاُبْرِئُ الْاَكْمَهَ وَالْاَبْرَصَ وَاُحْيِ الْمَوْتٰى بِاِذْنِ اللّٰهِۚ وَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُوْنَ وَمَا تَدَّخِرُوْنَۙ فِيْ بُيُوْتِكُمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَۚ ۝٤٩

wa rasûlan ilâ banî isrâ’îla annî qad ji’tukum bi’âyatim mir rabbikum annî akhluqu lakum minath-thîni kahai’atith-thairi fa anfukhu fîhi fa yakûnu thairam bi’idznillâh, wa ubri’ul-akmaha wal-abrasha wa uḫyil-mautâ bi’idznillâh, wa unabbi’ukum bimâ ta’kulûna wa mâ taddakhirûna fî buyûtikum, inna fî dzâlika la’âyatal lakum ing kuntum mu’minîn

(Allah akan menjadikannya) sebagai manusia rasul terhadap Bani Israil. (Isa berkata,) “Sesungguhnya aku telah dilakukan datang kepadamu dengan tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, sesungguhnya aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah yang berbentuk seperti burung. Lalu, aku meniupnya sehingga berubah jadi seekor burung dengan izin Allah. Aku menyembuhkan khalayak yang mana buta sejak dari lahir serta pendatang yang berpenyakit buras (belang) dan juga menghidupkan orang-orang mati dengan izin Allah. Aku beri tahukan kepadamu apa yang digunakan kamu makan kemudian apa yang digunakan kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang tersebut demikian itu benar-benar terdapat tanda (kerasulanku) bagimu apabila kamu orang-orang mukmin.

وَمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَلِاُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِيْ حُرِّمَ عَلَيْكُمْ وَجِئْتُكُمْ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْۗ فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِ ۝٥٠

wa mushaddiqal limâ baina yadayya minat-taurâti wa li’uḫilla lakum ba’dlalladzî ḫurrima ‘alaikum wa ji’tukum bi’âyatim mir rabbikum, fattaqullâha wa athî’ûn

(Aku diutus untuk) membenarkan Taurat yang dimaksud (diturunkan) sebelumku dan juga untuk menghalalkan bagi kamu sebagian perkara yang telah terjadi diharamkan untukmu. Aku datang kepadamu dengan mengakibatkan tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Oleh lantaran itu, bertakwalah terhadap Allah lalu taatlah kepadaku.

اِنَّ اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُۗ هٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ ۝٥١

innallâha rabbî wa rabbukum fa’budûh, hâdzâ shirâthum mustaqîm

Sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan juga Tuhanmu. Oleh akibat itu, sembahlah Dia. Inilah jalan yang tersebut lurus.”

۞ فَلَمَّآ اَحَسَّ عِيْسٰى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ اَنْصَارِيْٓ اِلَى اللّٰهِۗ قَالَ الْحَوَارِيُّوْنَ نَحْنُ اَنْصَارُ اللّٰهِۚ اٰمَنَّا بِاللّٰهِۚ وَاشْهَدْ بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ ۝٥٢

fa lammâ aḫassa ‘îsâ min-humul-kufra qâla man anshârî ilallâh, qâlal-ḫawâriyyûna naḫnu anshârullâh, âmannâ billâh, wasy-had bi’annâ muslimûn

Ketika Isa merasakan kekufuran mereka itu (Bani Israil), beliau berkata, “Siapakah yang dimaksud akan bermetamorfosis menjadi penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawari (sahabat setianya) menjawab, “Kamilah penolong (agama) Allah. Kami beriman untuk Allah dan juga saksikanlah sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.

رَبَّنَآ اٰمَنَّا بِمَآ اَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُوْلَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشّٰهِدِيْنَ ۝٥٣

rabbanâ âmannâ bimâ anzalta wattaba’nar-rasûla faktubnâ ma’asy-syâhidîn

Wahai Tuhan kami, kami telah lama beriman pada apa yang mana Engkau turunkan kemudian kami sudah pernah mengikuti Rasul. Oleh akibat itu, tetapkanlah kami bersatu orang-orang yang memberikan kesaksian.”

وَمَكَرُوْا وَمَكَرَ اللّٰهُۗ وَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَࣖ ۝٥٤

wa makarû wa makarallâh, wallâhu khairul-mâkirîn

Mereka (orang-orang kafir) menciptakan tipu daya kemudian Allah pun membalas tipu daya (mereka). Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.

اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسٰٓى اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَجَاعِلُ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْكَ فَوْقَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيْمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ ۝٥٥

idz qâlallâhu yâ ‘îsâ innî mutawaffîka wa râfi’uka ilayya wa muthahhiruka minalladzîna kafarû wa jâ’ilulladzînattaba’ûka fauqalladzîna kafarû ilâ yaumil-qiyâmah, tsumma ilayya marji’ukum fa aḫkumu bainakum fîmâ kuntum fîhi takhtalifûn

(Ingatlah) sewaktu Allah berfirman, “Wahai Isa, sesungguhnya Aku mengambilmu, mengangkatmu kepada-Ku, menyucikanmu dari orang-orang yang kufur, juga menjadikan orang-orang yang mengikutimu lebih besar unggul daripada orang-orang yang digunakan kufur hingga hari Kiamat. Kemudian, kepada-Kulah kamu kembali, kemudian Aku beri langkah tentang apa yang terus-menerus kamu perselisihkan.

فَاَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَاُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۖ وَمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ ۝٥٦

fa ammalladzîna kafarû fa u’adzdzibuhum ‘adzâban syadîdan fid-dun-yâ wal-âkhirati wa mâ lahum min nâshirîn

Adapun orang-orang yang tersebut kufur akan Aku azab merekan dengan azab yang sangat keras pada dunia juga di dalam akhirat lalu sekali-kali tak ada penolong bagi mereka.”

وَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَيُوَفِّيْهِمْ اُجُوْرَهُمْۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ ۝٥٧

wa ammalladzîna âmanû wa ‘amilush-shâliḫâti fa yuwaffîhim ujûrahum, wallâhu lâ yuḫibbudh-dhâlimîn

Sementara itu, orang-orang yang beriman serta beramal saleh akan Dia berikan pahala merekan dengan sempurna. Allah tiada menyukai orang-orang zalim.

ذٰلِكَ نَتْلُوْهُ عَلَيْكَ مِنَ الْاٰيٰتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ ۝٥٨

dzâlika natlûhu ‘alaika minal-âyâti wadz-dzikril-ḫakîm

Itulah (kisah Isa) yang digunakan Kami bacakan kepadamu (Nabi Muhammad) sebagian bukti-bukti (kebenaranmu sebagai rasul) dan juga peringatan keras yang tersebut penuh hikmah (Al-Qur’an).

اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَۗ خَلَقَهٗ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ۝٥٩

inna matsala ‘îsâ ‘indallâhi kamatsali âdam, khalaqahû min turâbin tsumma qâla lahû kun fa yakûn

Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah kemudian berfirman kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu.

اَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُنْ مِّنَ الْمُمْتَرِيْنَ ۝٦٠

al-ḫaqqu mir rabbika fa lâ takum minal-mumtarîn

Kebenaran itu dari Tuhanmu. Oleh akibat itu, janganlah engkau (Nabi Muhammad) di antaranya orang-orang yang ragu.

فَمَنْ حَاۤجَّكَ فِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ اَبْنَاۤءَنَا وَاَبْنَاۤءَكُمْ وَنِسَاۤءَنَا وَنِسَاۤءَكُمْ وَاَنْفُسَنَا وَاَنْفُسَكُمْۗ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَّعْنَتَ اللّٰهِ عَلَى الْكٰذِبِيْنَ ۝٦١

fa man ḫâjjaka fîhi mim ba’di mâ jâ’aka minal-‘ilmi fa qul ta’âlau nad’u abnâ’anâ wa abnâ’akum wa nisâ’anâ wa nisâ’akum wa anfusanâ wa anfusakum, tsumma nabtahil fa naj’al la’natallâhi ‘alal-kâdzibîn

Siapa yang dimaksud membantahmu pada hal ini setelahnya datang ilmu kepadamu, maka katakanlah (Nabi Muhammad), “Marilah kita panggil anak-anak kami kemudian anak-anak kamu, istri-istri kami dan juga istri-istri kamu, diri kami kemudian diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan untuk para pendusta.”

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّۚ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّا اللّٰهُۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ۝٦٢

inna hâdzâ lahuwal-qashashul-ḫaqq, wa mâ min ilâhin illallâh, wa innallâha lahuwal-‘azîzul-ḫakîm

Sesungguhnya ini benar-benar kisah yang hak. Tidak ada tuhan selain Allah, serta sesungguhnya Allahlah yang benar-benar Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢ بِالْمُفْسِدِيْنَࣖ ۝٦٣

fa in tawallau fa innallâha ‘alîmum bil-mufsidîn

Jika dia berpaling, (ketahuilah) bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang tersebut berbuat kerusakan.

قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍ ۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ ۝٦٤

qul yâ ahlal-kitâbi ta’âlau ilâ kalimatin sawâ’im bainanâ wa bainakum allâ na’buda illallâha wa lâ nusyrika bihî syai’aw wa lâ yattakhidza ba’dlunâ ba’dlan arbâbam min dûnillâh, fa in tawallau fa qûlusy-hadû bi’annâ muslimûn

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang tersebut serupa antara kami juga kamu, (yakni) kita tak menyembah selain Allah, kita bukan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan juga tiada (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang digunakan lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” Jika mereka itu berpaling, katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.”

يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تُحَاۤجُّوْنَ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمَآ اُنْزِلَتِ التَّوْرٰىةُ وَالْاِنْجِيْلُ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِهٖۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ۝٦٥

yâ ahlal-kitâbi lima tuḫâjjûna fî ibrâhîma wa mâ unzilatit-taurâtu wal-injîlu illâ mim ba’dih, a fa lâ ta’qilûn

Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu berbantah-bantahan tentang Ibrahim? Padahal, Taurat kemudian Injil bukan diturunkan, kecuali setelahnya ia (Ibrahim). Apakah kamu tiada mengerti?

هٰٓاَنْتُمْ هٰٓؤُلَاۤءِ حَاجَجْتُمْ فِيْمَا لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاۤجُّوْنَ فِيْمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ واَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ۝٦٦

hâ’antum hâ’ulâ’i ḫâjajtum fîmâ lakum bihî ‘ilmun fa lima tuḫâjjûna fîmâ laisa lakum bihî ‘ilm, wallâhu ya’lamu wa antum lâ ta’lamûn

Begitulah kamu. Kamu berbantah-bantahan tentang apa yang mana kamu ketahui, tetapi mengapa kamu berbantah-bantahan (juga) tentang apa yang mana bukan kamu ketahui? Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak ada mengetahui.

مَاكَانَ اِبْرٰهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَانِيًّا وَّلٰكِنْ كَانَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ۝٦٧

mâ kâna ibrâhîmu yahûdiyyaw wa lâ nashrâniyyaw wa lâking kâna ḫanîfam muslimâ, wa mâ kâna minal-musyrikîn

Ibrahim bukanlah seseorang Yahudi serta tidak pula orang Nasrani, melainkan beliau adalah seseorang yang hanif lagi berserah diri (muslim). Dia bukanlah pula di antaranya (golongan) orang-orang musyrik.

اِنَّ اَوْلَى النَّاسِ بِاِبْرٰهِيْمَ لَلَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ وَهٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ وَاللّٰهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِيْنَ ۝٦٨

inna aulan-nâsi bi’ibrâhîma lalladzînattaba’ûhu wa hâdzan-nabiyyu walladzîna âmanû, wallâhu waliyyul-mu’minîn

Sesungguhnya pendatang yang digunakan paling dekat dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya, Nabi ini (Nabi Muhammad), juga orang-orang yang tersebut beriman. Allah adalah pelindung orang-orang mukmin.

وَدَّتْ طَّاۤىِٕفَةٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَوْ يُضِلُّوْنَكُمْۗ وَمَا يُضِلُّوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَ ۝٦٩

waddath thâ’ifatum min ahlil-kitâbi lau yudlillûnakum, wa mâ yudlillûna illâ anfusahum wa mâ yasy’urûn

Segolongan Ahlulkitab ingin menyesatkan kamu. Padahal, mereka tidaklah menyesatkan (siapa pun), kecuali diri mereka itu sendiri. Akan tetapi, mereka itu tiada sadar.

يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَاَنْتُمْ تَشْهَدُوْنَ ۝٧٠

yâ ahlal-kitâbi lima takfurûna bi’âyâtillâhi wa antum tasy-hadûn

Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya)?

يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تَلْبِسُوْنَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَࣖ ۝٧١

yâ ahlal-kitâbi lima talbisûnal-ḫaqqa bil-bâthili wa taktumûnal-ḫaqqa wa antum ta’lamûn

Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang hak dengan yang mana batil serta kamu menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?

وَقَالَتْ طَّاۤىِٕفَةٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اٰمِنُوْا بِالَّذِيْٓ اُنْزِلَ عَلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوْٓا اٰخِرَهٗ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَۚ ۝٧٢

wa qâlath thâ’ifatum min ahlil-kitâbi âminû billadzî unzila ‘alalladzîna âmanû waj-han-nahâri wakfurû âkhirahû la’allahum yarji’ûn

Segolongan Ahlulkitab berkata (kepada sesamanya), “Berimanlah kamu pada apa yang diturunkan terhadap orang-orang yang beriman pada awal siang lalu ingkarlah pada akhir (siang) agar merekan kembali (pada kekufuran).

وَلَا تُؤْمِنُوْٓا اِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِيْنَكُمْۗ قُلْ اِنَّ الْهُدٰى هُدَى اللّٰهِۙ اَنْ يُّؤْتٰىٓ اَحَدٌ مِّثْلَ مَآ اُوْتِيْتُمْ اَوْ يُحَاۤجُّوْكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْۗ قُلْ اِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللّٰهِۚ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌۚ ۝٧٣

wa lâ tu’minû illâ liman tabi’a dînakum, qul innal-hudâ hudallâhi ay yu’tâ aḫadum mitsla mâ ûtîtum au yuḫâjjûkum ‘inda rabbikum, qul innal-fadlla biyadillâh, yu’tîhi may yasyâ’, wallâhu wâsi’un ‘alîm

Janganlah kamu percaya selain terhadap warga yang mengikuti agamamu.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya petunjuk (yang sempurna) itu hanyalah petunjuk Allah. (Janganlah kamu percaya) bahwa seseorang akan diberi seperti apa yang tersebut diberikan untuk kamu atau mereka itu akan menyanggah kamu di dalam hadapan Tuhanmu.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya karunia itu di dalam tangan Allah. Dia menganugerahkannya terhadap siapa yang tersebut Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”

يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ ۝٧٤

yakhtashshu biraḫmatihî may yasyâ’, wallâhu dzul-fadllil-‘adhîmDia menentukan rahmat-Nya untuk siapa yang digunakan Dia kehendaki serta Allah memiliki karunia yang tersebut besar.

۞ وَمِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ مَنْ اِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُّؤَدِّهٖٓ اِلَيْكَۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ اِنْ تَأْمَنْهُ بِدِيْنَارٍ لَّا يُؤَدِّهٖٓ اِلَيْكَ اِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَاۤىِٕمًاۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْا لَيْسَ عَلَيْنَا فِى الْاُمِّيّٖنَ سَبِيْلٌۚ وَيَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ۝٧٥

wa min ahlil-kitâbi man in ta’man-hu biqinthâriy yu’addihî ilaîk, wa min-hum man in ta’man-hu bidînâril lâ yu’addihî ilaika illâ mâ dumta ‘alaihi qâ’imâ, dzâlika bi’annahum qâlû laisa ‘alainâ fil-ummiyyîna sabîl, wa yaqûlûna ‘alallâhil-kadziba wa hum ya’lamûn

Di antara Ahlulkitab ada warga yang tersebut jikalau engkau percayakan kepadanya harta yang mana banyak, niscaya beliau mengembalikannya kepadamu. Akan tetapi, ada (pula) di antara mereka itu warga yang mana jikalau engkau percayakan kepadanya satu dinar, ia bukan mengembalikannya kepadamu, kecuali apabila engkau terus-menerus menagihnya. Yang demikian itu disebabkan mereka berkata, “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang umi.” Mereka mengungkapkan hal yang dusta terhadap Allah, padahal merekan mengetahui.

بَلٰى مَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ وَاتَّقٰى فَاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ ۝٧٦

balâ man aufâ bi’ahdihî wattaqâ fa innallâha yuḫibbul-muttaqîn

Bukan begitu! Siapa yang mana menepati janji lalu bertakwa, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.

اِنَّ الَّذِيْنَ يَشْتَرُوْنَ بِعَهْدِ اللّٰهِ وَاَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيْلًا اُولٰۤىِٕكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللّٰهُ وَلَا يَنْظُرُ اِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيْهِمْۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۝٧٧

innalladzîna yasytarûna bi’ahdillâhi wa aimânihim tsamanang qalîlan ulâ’ika lâ khalâqa lahum fil-âkhirati wa lâ yukallimuhumullâhu wa lâ yandhuru ilaihim yaumal-qiyâmati wa lâ yuzakkîhim wa lahum ‘adzâbun alîm

Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan juga sumpah-sumpah merekan dengan tarif murah, merek itu tiada memperoleh bagian di akhirat, Allah tiada akan menyapa mereka, tiada akan memperhatikan dia pada hari Kiamat, lalu tidaklah akan menyucikan mereka. Bagi merek azab yang digunakan pedih.

وَاِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيْقًا يَّلْوٗنَ اَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتٰبِ لِتَحْسَبُوْهُ مِنَ الْكِتٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتٰبِۚ وَيَقُوْلُوْنَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِۚ وَيَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ۝٧٨

wa inna min-hum lafarîqay yalwûna alsinatahum bil-kitâbi litaḫsabûhu minal-kitâbi wa mâ huwa minal-kitâb, wa yaqûlûna huwa min ‘indillâhi wa mâ huwa min ‘indillâh, wa yaqûlûna ‘alallâhil-kadziba wa hum ya’lamûn

Sesungguhnya ke antara dia (Bani Israil) ada segolongan yang dimaksud memutar-mutar lidahnya (ketika membaca) Alkitab agar kamu menyangka (yang mereka baca) itu sebagian dari Alkitab. Padahal, itu bukanlah dari Alkitab. Mereka berkata, “Itu dari Allah.” Padahal, itu bukanlah dari Allah. Mereka mengutarakan hal yang dusta terhadap Allah, sedangkan dia mengetahui.

مَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّؤْتِيَهُ اللّٰهُ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوْلَ لِلنَّاسِ كُوْنُوْا عِبَادًا لِّيْ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰكِنْ كُوْنُوْا رَبَّانِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَۙ ۝٧٩

mâ kâna libasyarin ay yu’tiyahullâhul-kitâba wal-ḫukma wan-nubuwwata tsumma yaqûla lin-nâsi kûnû ‘ibâdal lî min dûnillâhi wa lâking kûnû rabbâniyyîna bimâ kuntum tu’allimûnal-kitâba wa bimâ kuntum tadrusûn

Tidak sepatutnya seseorang diberi Alkitab, hukum, dan juga kenabian oleh Allah, kemudian beliau berkata untuk manusia, “Jadilah kamu para penyembahku, bukanlah (penyembah) Allah,” tetapi (hendaknya beliau berkata), “Jadilah kamu para pengabdi Allah akibat kamu setiap saat mengajarkan kitab dan juga mempelajarinya!”

وَلَا يَأْمُرَكُمْ اَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلٰۤىِٕكَةَ وَالنَّبِيّٖنَ اَرْبَابًاۗ اَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ اِذْ اَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَࣖ ۝٨٠

wa lâ ya’murakum an tattakhidzul-malâ’ikata wan-nabiyyîna arbâbâ, a ya’murukum bil-kufri ba’da idz antum muslimûn

Tidak (sepatutnya) pula beliau menyuruh kamu menjadikan para malaikat serta para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) ia menyuruh kamu (berbuat) kekufuran pasca kamu menjadi muslim?

وَاِذْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ النَّبِيّٖنَ لَمَآ اٰتَيْتُكُمْ مِّنْ كِتٰبٍ وَّحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهٖ وَلَتَنْصُرُنَّهٗۗ قَالَ ءَاَقْرَرْتُمْ وَاَخَذْتُمْ عَلٰى ذٰلِكُمْ اِصْرِيْۗ قَالُوْٓا اَقْرَرْنَاۗ قَالَ فَاشْهَدُوْا وَاَنَا۠ مَعَكُمْ مِّنَ الشّٰهِدِيْنَ ۝٨١

wa idz akhadzallâhu mîtsâqan-nabiyyîna lamâ âtaitukum ming kitâbiw wa ḫikmatin tsumma jâ’akum rasûlum mushaddiqul limâ ma’akum latu’minunna bihî wa latanshurunnah, qâla a aqrartum wa akhadztum ‘alâ dzâlikum ishrî, qâlû aqrarnâ, qâla fasy-hadû wa ana ma’akum minasy-syâhidîn

(Ingatlah) pada saat Allah mengambil perjanjian dari para nabi, “Manakala Aku memberikan kitab serta hikmah kepadamu, sesudah itu datang terhadap kamu seseorang rasul yang dimaksud membenarkan apa yang tersebut ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya lalu menolongnya.” Allah berfirman, “Apakah kamu mengakui lalu menerima perjanjian dengan-Ku melawan yang demikian itu?” Mereka menjawab, “Kami mengakui.” Allah berfirman, “Kalau begitu, bersaksilah kamu (para nabi) dan juga Aku berubah jadi saksi (pula) dengan kamu.”

فَمَنْ تَوَلّٰى بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ۝٨٢

fa man tawallâ ba’da dzâlika fa ulâ’ika humul-fâsiqûnSiapa yang dimaksud berpaling pasca itu, dia itulah orang-orang fasik.

اَفَغَيْرَ دِيْنِ اللّٰهِ يَبْغُوْنَ وَلَهٗٓ اَسْلَمَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّاِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ ۝٨٣

a fa ghaira dînillâhi yabghûna wa lahû aslama man fis-samâwâti wal-ardli thau’aw wa kar-haw wa ilaihi yurja’ûn

Mengapa dia mencari agama selain agama Allah? Padahal, hanya saja kepada-Nya apa yang ada dalam langit juga pada bumi berserah diri, baik dengan suka maupun terpaksa, kemudian cuma kepada-Nya merek dikembalikan.

قُلْ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَآ اُنْزِلَ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْۖ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْۖ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ۝٨٤

qul âmannâ billâhi wa mâ unzila ‘alainâ wa mâ unzila ‘alâ ibrâhîma wa ismâ’îla wa is-ḫâqa wa ya’qûba wal-asbâthi wa mâ ûtiya mûsâ wa ‘îsâ wan-nabiyyûna mir rabbihim lâ nufarriqu baina aḫadim min-hum wa naḫnu lahû muslimûn

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Kami beriman terhadap Allah lalu pada apa yang dimaksud diturunkan untuk kami dan juga yang diturunkan untuk Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub beserta anak cucunya, juga apa yang dimaksud diberikan untuk Musa, Isa, dan juga para nabi dari Tuhan mereka. Kami tiada membeda-bedakan manusia pun di antara dia serta belaka kepada-Nya kami berserah diri.”

وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ۝٨٥

wa may yabtaghi ghairal-islâmi dînan fa lay yuqbala min-h, wa huwa fil-âkhirati minal-khâsirîn

Siapa yang dimaksud mencari agama selain Islam, sekali-kali (agamanya) tiada akan diterima darinya juga dalam akhirat beliau salah satunya orang-orang yang digunakan rugi.

كَيْفَ يَهْدِى اللّٰهُ قَوْمًا كَفَرُوْا بَعْدَ اِيْمَانِهِمْ وَشَهِدُوْٓا اَنَّ الرَّسُوْلَ حَقٌّ وَّجَاۤءَهُمُ الْبَيِّنٰتُۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ۝٨٦

kaifa yahdillâhu qaumang kafarû ba’da îmânihim wa syahidû annar-rasûla ḫaqquw wa jâ’ahumul-bayyinât, wallâhu lâ yahdil-qaumadh-dhâlimîn

Bagaimana (mungkin) Allah akan memberi petunjuk terhadap suatu kaum yang digunakan kufur pasca mereka itu beriman dan juga mengakui bahwa Rasul (Muhammad) itu benar dan juga bukti-bukti yang mana jelas telah lama sampai untuk mereka? Allah tiada memberi petunjuk untuk kaum yang dimaksud zalim.

اُولٰۤىِٕكَ جَزَاۤؤُهُمْ اَنَّ عَلَيْهِمْ لَعْنَةَ اللّٰهِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَۙ ۝٨٧

ulâ’ika jazâ’uhum anna ‘alaihim la’natallâhi wal-malâ’ikati wan-nâsi ajma’în

Mereka itu, balasannya adalah ditimpa laknat Allah, para malaikat, kemudian manusia seluruhnya.

خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۚ لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُوْنَۙ ۝٨٨

khâlidîna fîhâ, lâ yukhaffafu ‘an-humul-‘adzâbu wa lâ hum yundharûn

Mereka kekal di dalam dalamnya (laknat). Tidak akan diringankan azab dari mereka, lalu mereka itu tiada diberi penangguhan,

اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ وَاَصْلَحُوْاۗ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٨٩

illalladzîna tâbû mim ba’di dzâlika wa ashlaḫû, fa innallâha ghafûrur raḫîm

kecuali orang-orang yang dimaksud bertobat pasca itu dan juga memperbaiki (dirinya). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بَعْدَ اِيْمَانِهِمْ ثُمَّ ازْدَادُوْا كُفْرًا لَّنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْۚ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الضَّاۤلُّوْنَ ۝٩٠

innalladzîna kafarû ba’da îmânihim tsummazdâdû kufral lan tuqbala taubatuhum, wa ulâ’ika humudl-dlâllûn

Sesungguhnya orang-orang yang mana kufur pasca beriman, kemudian bertambah kekufurannya, bukan akan diterima tobatnya juga merek itulah orang-orang sesat.

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَمَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْ اَحَدِهِمْ مِّلْءُ الْاَرْضِ ذَهَبًا وَّلَوِ افْتَدٰى بِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ وَّمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَࣖ ۝٩١

innalladzîna kafarû wa mâtû wa hum kuffârun fa lay yuqbala min aḫadihim mil’ul-ardli dzahabaw wa lawiftadâ bih, ulâ’ika lahum ‘adzâbun alîmuw wa mâ lahum min nâshirîn

Sesungguhnya orang-orang yang kufur juga mati sebagai orang-orang kafir tak akan diterima (tebusan) dari seseorang dalam antara merek sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya beliau hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mana mendapat azab yang tersebut pedih juga tidaklah ada penolong bagi mereka.

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ ۝٩٢

lan tanâlul-birra ḫattâ tunfiqû mimmâ tuḫibbûn, wa mâ tunfiqû min syai’in fa innallâha bihî ‘alîm

Kamu sekali-kali tidak ada akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang digunakan kamu cintai. Apa pun yang tersebut kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya.

۞ كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِّبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اِلَّا مَا حَرَّمَ اِسْرَاۤءِيْلُ عَلٰى نَفْسِهٖ مِنْ قَبْلِ اَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرٰىةُۗ قُلْ فَأْتُوْا بِالتَّوْرٰىةِ فَاتْلُوْهَآ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ۝٩٣

kulluth-tha’âmi kâna ḫillal libanî isrâ’îla illâ mâ ḫarrama isrâ’îlu ‘alâ nafsihî ming qabli an tunazzalat-taurâh, qul fa’tû bit-taurâti fatlûhâ ing kuntum shâdiqîn

Semua makanan halal bagi Bani Israil, kecuali makanan yang digunakan diharamkan oleh Israil (Ya’qub) melawan dirinya sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bawalah Taurat setelah itu bacalah, apabila kamu orang-orang yang mana benar.”

فَمَنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ۝٩٤

fa maniftarâ ‘alallâhil-kadziba mim ba’di dzâlika fa ulâ’ika humudh-dhâlimûn

Maka, siapa yang digunakan mengada-adakan kebohongan terhadap Allah setelahnya itu, merek itulah orang-orang zalim.

قُلْ صَدَقَ اللّٰهُۗ فَاتَّبِعُوْا مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ۝٩٥

qul shadaqallâh, fattabi’û millata ibrâhîma ḫanîfâ, wa mâ kâna minal-musyrikîn

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Mahabenar Allah (dalam firman-Nya).” Maka, ikutilah agama Ibrahim yang hanif dan juga ia tidaklah diantaranya orang-orang musyrik.

اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ ۝٩٦

inna awwala baitiw wudli’a lin-nâsi lalladzî bibakkata mubârakaw wa hudal lil-‘âlamîn

Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang tersebut dibangun untuk manusia adalah (Baitullah) yang mana (berada) di dalam Bakkah (Makkah) yang diberkahi lalu berubah jadi petunjuk bagi seluruh alam.

فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًاۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ ۝٩٧

fîhi âyâtum bayyinâtum maqâmu ibrâhîm, wa man dakhalahû kâna âminâ, wa lillâhi ‘alan-nâsi ḫijjul-baiti manistathâ’a ilaihi sabîlâ, wa mang kafara fa innallâha ghaniyyun ‘anil-‘âlamîn

Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang dimaksud jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Siapa yang dimaksud memasukinya (Baitullah), maka amanlah dia. (Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) khalayak yang mana mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang tersebut mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam.

قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَاللّٰهُ شَهِيْدٌ عَلٰى مَا تَعْمَلُوْنَ ۝٩٨

qul yâ ahlal-kitâbi lima takfurûna bi’âyâtillâhi wallâhu syahîdun ‘alâ mâ ta’malûn

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu terus-menerus mengingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan?”

قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ تَبْغُوْنَهَا عِوَجًا وَّاَنْتُمْ شُهَدَاۤءُۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ ۝٩٩

qul yâ ahlal-kitâbi lima tashuddûna ‘an sabîlillâhi man âmana tabghûnahâ ‘iwajaw wa antum syuhadâ’, wa mallâhu bighâfilin ‘ammâ ta’malûn

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu terus-menerus menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah? Kamu (memang) menghendakinya (jalan Allah itu) menjadi bengkok, sedangkan kamu menyaksikan. Allah bukan lengah terhadap apa yang tersebut kamu kerjakan.”

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تُطِيْعُوْا فَرِيْقًا مِّنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ يَرُدُّوْكُمْ بَعْدَ اِيْمَانِكُمْ كٰفِرِيْنَ ۝١٠٠

yâ ayyuhalladzîna âmanû in tuthî’û farîqam minalladzîna ûtul-kitâba yaruddûkum ba’da îmânikum kâfirînWahai orang-orang yang mana beriman, jikalau kamu mengikuti segolongan dari penduduk yang diberi Alkitab, niscaya dia akan mengatasi kamu berubah menjadi orang-orang kafir setelahnya beriman.

وَكَيْفَ تَكْفُرُوْنَ وَاَنْتُمْ تُتْلٰى عَلَيْكُمْ اٰيٰتُ اللّٰهِ وَفِيْكُمْ رَسُوْلُهٗۗ وَمَنْ يَّعْتَصِمْ بِاللّٰهِ فَقَدْ هُدِيَ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍࣖ ۝١٠١

wa kaifa takfurûna wa antum tutlâ ‘alaikum âyâtullâhi wa fîkum rasûluh, wa may ya’tashim billâhi fa qad hudiya ilâ shirâthim mustaqîm

Bagaimana kamu (sampai) berubah menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan terhadap kamu juga Rasul-Nya (Nabi Muhammad) pun berada di dalam tengah-tengah kamu? Siapa yang digunakan berpegang teguh pada (agama) Allah, sungguh ia telah terjadi diberi petunjuk ke jalan yang digunakan lurus.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۝١٠٢

yâ ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha ḫaqqa tuqâtihî wa lâ tamûtunna illâ wa antum muslimûn

Wahai orang-orang yang dimaksud beriman, bertakwalah untuk Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya serta janganlah kamu tertutup kecuali pada keadaan muslim.

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ ۝١٠٣

wa’tashimû biḫablillâhi jamî’aw wa lâ tafarraqû wadzkurû ni’matallâhi ‘alaikum idz kuntum a’dâ’an fa allafa baina qulûbikum fa ashbaḫtum bini’matihî ikhwânâ, wa kuntum ‘alâ syafâ ḫufratim minan-nâri fa angqadzakum min-hâ, kadzâlika yubayyinullâhu lakum âyâtihî la’allakum tahtadûn

Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, juga ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, kemudian Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu berubah jadi bersaudara. (Ingatlah pula saat itu) kamu berada di dalam tepi jurang neraka, setelah itu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ۝١٠٤

waltakum mingkum ummatuy yad’ûna ilal-khairi wa ya’murûna bil-ma’rûfi wa yan-hauna ‘anil-mungkar, wa ulâ’ika humul-mufliḫûn

Hendaklah ada pada antara kamu segolongan khalayak yang menyeru terhadap kebajikan, menyuruh (berbuat) yang dimaksud makruf, juga mengurangi dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang tersebut beruntung.

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْبَيِّنٰتُۗ وَاُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌۙ ۝١٠٥

wa lâ takûnû kalladzîna tafarraqû wakhtalafû mim ba’di mâ jâ’ahumul-bayyinât, wa ulâ’ika lahum ‘adzâbun ‘adhîm

Janganlah kamu bermetamorfosis menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai juga berselisih pasca sampai terhadap mereka informasi yang mana jelas. Mereka itulah orang-orang yang tersebut mendapat azab yang mana sangat berat.

يَّوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَّتَسْوَدُّ وُجُوْهٌۚ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اسْوَدَّتْ وُجُوْهُهُمْۗ اَ كَفَرْتُمْ بَعْدَ اِيْمَانِكُمْ فَذُوْقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُوْنَ ۝١٠٦

yauma tabyadldlu wujûhuw wa taswaddu wujûh, fa ammalladzînaswaddat wujûhuhum, a kafartum ba’da îmânikum fa dzûqul-‘adzâba bimâ kuntum takfurûn

(Azab itu terjadi) pada hari pada saat ada wajah yang dimaksud putih berseri juga ada pula wajah yang tersebut hitam kusam. Adapun orang-orang yang tersebut berwajah hitam kusam (kepada merek dikatakan), “Mengapa kamu kafir pasca beriman? Oleh sebab itu, rasakanlah azab yang digunakan disebabkan kekafiranmu.”

وَاَمَّا الَّذِيْنَ ابْيَضَّتْ وُجُوْهُهُمْ فَفِيْ رَحْمَةِ اللّٰهِۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ۝١٠٧

wa ammalladzînabyadldlat wujûhuhum fa fî raḫmatillâh, hum fîhâ khâlidûn

Adapun orang-orang yang berwajah putih berseri, mereka itu berada di rahmat Allah (surga). Mereka kekal ke dalamnya.

تِلْكَ اٰيٰتُ اللّٰهِ نَتْلُوْهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّۗ وَمَا اللّٰهُ يُرِيْدُ ظُلْمًا لِّلْعٰلَمِيْنَ ۝١٠٨

tilka âyâtullâhi natlûhâ ‘alaika bil-ḫaqq, wa mallâhu yurîdu dhulmal lil-‘âlamîn

Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan benar lalu tidaklah Allah berkehendak melakukan kezaliman pada semesta alam.

وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَاِلَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُمُوْرُࣖ ۝١٠٩

wa lillâhi mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, wa ilallâhi turja’ul-umûr

Milik Allahlah apa yang ada pada langit kemudian apa yang ada dalam bumi kemudian hanya sekali untuk Allah segala urusan dikembalikan.

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ ۝١١٠

kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nâsi ta’murûna bil-ma’rûfi wa tan-hauna ‘anil-mungkari wa tu’minûna billâh, walau âmana ahlul-kitâbi lakâna khairal lahum, min-humul-mu’minûna wa aktsaruhumul-fâsiqûn

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang tersebut dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang digunakan makruf, mengurangi dari yang mungkar, dan juga beriman untuk Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih lanjut baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang mana beriman dan juga kebanyakan merekan adalah orang-orang fasik.

لَنْ يَّضُرُّوْكُمْ اِلَّآ اَذًىۗ وَاِنْ يُّقَاتِلُوْكُمْ يُوَلُّوْكُمُ الْاَدْبَارَۗ ثُمَّ لَا يُنْصَرُوْنَ ۝١١١

lay yadlurrûkum illâ adzâ, wa iy yuqâtilûkum yuwallûkumul-adbâr, tsumma lâ yunsharûn

Mereka tiada akan membahayakanmu, kecuali gangguan-gangguan kecil saja. Jika merekan memerangi kamu, niscaya mereka berbalik ke belakang (kalah), kemudian mereka tidak ada mendapat pertolongan.

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ الْاَنْبِۢيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ ۝١١٢

dluribat ‘alaihimudz-dzillatu aina mâ tsuqifû illâ biḫablim minallâhi wa ḫablim minan-nâsi wa bâ’û bighadlabim minallâhi wa dluribat ‘alaihimul-maskanah, dzâlika bi’annahum kânû yakfurûna bi’âyâtillâhi wa yaqtulûnal-ambiyâ’a bighairi ḫaqq, dzâlika bimâ ‘ashaw wa kânû ya’tadûn

Kehinaan ditimpakan terhadap mereka pada mana belaka mereka itu berada, kecuali jikalau merekan (berpegang) pada tali (agama) Allah juga tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka pasti mendapat murka dari Allah lalu kesengsaraan ditimpakan terhadap mereka. Yang demikian itu oleh sebab itu merekan mengingkari ayat-ayat Allah juga membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu lantaran dia durhaka dan juga melampaui batas.

۞ لَيْسُوْا سَوَاۤءًۗ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اُمَّةٌ قَاۤىِٕمَةٌ يَّتْلُوْنَ اٰيٰتِ اللّٰهِ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُوْنَ ۝١١٣

laisû sawâ’â, min ahlil-kitâbi ummatung qâ’imatuy yatlûna âyâtillâhi ânâ’al-laili wa hum yasjudûn

Mereka tak sama. Di antara Ahlulkitab ada golongan yang lurus. Mereka membaca ayat-ayat Allah pada di malam hari hari di keadaan bersujud (salat).

يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ۝١١٤

yu’minûna billâhi wal-yaumil-âkhiri wa ya’murûna bil-ma’rûfi wa yan-hauna ‘anil-mungkari wa yusâri’ûna fil-khairât, wa ulâ’ika minash-shâliḫîn

Mereka beriman terhadap Allah serta hari Akhir, menyuruh (berbuat) yang digunakan makruf, menghindari dari yang mana mungkar, juga bersegera (mengerjakan) bervariasi kebajikan. Mereka itu diantaranya orang-orang saleh.

وَمَا يَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ يُّكْفَرُوْهُۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢ بِالْمُتَّقِيْنَ ۝١١٥

wa mâ yaf’alû min khairin fa lay yukfarûh, wallâhu ‘alîmum bil-muttaqîn

Kebaikan apa pun yang digunakan merekan kerjakan, mereka itu tidak ada akan dihalangi dari (pahala)-nya. Allah Maha Mengetahui orang-orang bertakwa.

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ اَمْوَالُهُمْ وَلَآ اَوْلَادُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ۝١١٦

innalladzîna kafarû lan tughniya ‘an-hum amwâluhum wa lâ aulâduhum minallâhi syai’â, wa ulâ’ika ash-ḫâbun-nâr, hum fîhâ khâlidûn

Sesungguhnya orang-orang yang mana kufur, baik harta maupun anak-anaknya, sedikit pun tidak ada dapat menolak (azab) Allah. Mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal ke dalamnya.

مَثَلُ مَا يُنْفِقُوْنَ فِيْ هٰذِهِ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رِيْحٍ فِيْهَا صِرٌّ اَصَابَتْ حَرْثَ قَوْمٍ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ فَاَهْلَكَتْهُۗ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللّٰهُ وَلٰكِنْ اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ ۝١١٧

matsalu mâ yunfiqûna fî hâdzihil-ḫayâtid-dun-yâ kamatsali rîḫin fîhâ shirrun ashâbat ḫartsa qaumin dhalamû anfusahum fa ahlakat-h, wa mâ dhalamahumullâhu wa lâkin anfusahum yadhlimûn

Perumpamaan harta yang dimaksud dia infakkan di dalam pada keberadaan bola ini adalah ibarat angin yang dimaksud mengandung hawa sangat dingin yang mana menimpa flora (milik) suatu kaum yang menzalimi diri sendiri, kemudian (angin itu) merusaknya. Allah tiada menzalimi mereka, tetapi merekan yang dimaksud menzalimi diri sendiri.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا بِطَانَةً مِّنْ دُوْنِكُمْ لَا يَأْلُوْنَكُمْ خَبَالًاۗ وَدُّوْا مَا عَنِتُّمْۚ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاۤءُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۖ وَمَا تُخْفِيْ صُدُوْرُهُمْ اَكْبَرُۗ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْاٰيٰتِ اِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُوْنَ ۝١١٨

yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tattakhidzû bithânatam min dûnikum lâ ya’lûnakum khabâlâ, waddû mâ ‘anittum, qad badatil-baghdlâ’u min afwâhihim wa mâ tukhfî shudûruhum akbar, qad bayyannâ lakumul-âyâti ing kuntum ta’qilûn

Wahai orang-orang yang tersebut beriman, janganlah kamu mengambil teman kepercayaan dari orang-orang di dalam luar kalangan (agama)-mu (karena) merek tiada henti-hentinya (mendatangkan) kemudaratan bagimu. Mereka menginginkan apa yang mana menyusahkanmu. Sungguh, telah dilakukan nyata kebencian dari mulut dia dan juga apa yang mana mereka sembunyikan di hati lebih besar besar. Sungguh, Kami sudah menerangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), apabila kamu berpikir.

هٰٓاَنْتُمْ اُولَاۤءِ تُحِبُّوْنَهُمْ وَلَا يُحِبُّوْنَكُمْ وَتُؤْمِنُوْنَ بِالْكِتٰبِ كُلِّهٖۚ وَاِذَا لَقُوْكُمْ قَالُوْٓا اٰمَنَّاۖ وَاِذَا خَلَوْا عَضُّوْا عَلَيْكُمُ الْاَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِۗ قُلْ مُوْتُوْا بِغَيْظِكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ ۝١١٩

hâ’antum ulâ’i tuḫibbûnahum wa lâ yuḫibbûnakum wa tu’minûna bil-kitâbi kullih, wa idzâ laqûkum qâlû âmannâ wa idzâ khalau ‘adldlû ‘alaikumul-anâmila minal-ghaîdh, qul mûtû bighaidhikum, innallâha ‘alîmum bidzâtish-shudûr

Begitulah kamu. Kamu menyukai mereka, padahal mereka tiada menyukaimu, serta kamu beriman pada semua kitab. Apabila mereka itu berjumpa denganmu, dia berkata, “Kami beriman.” Apabila mereka menyendiri, mereka itu menggigit ujung jari lantaran murka kepadamu. Katakanlah, “Matilah kamu sebab kemurkaanmu itu!” Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

اِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْۖ وَاِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَّفْرَحُوْا بِهَاۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْـًٔاۗ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌࣖ ۝١٢٠

in tamsaskum ḫasanatun tasu’hum wa in tushibkum sayyi’atuy yafraḫû bihâ, wa in tashbirû wa tattaqû lâ yadlurrukum kaiduhum syai’â, innallâha bimâ ya’malûna muḫîth

Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati. Adapun jikalau kamu tertimpa bencana, merek bergembira karenanya. Jika kamu bersabar serta bertakwa, tidaklah tipu daya merekan akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi segala yang mana dia kerjakan.

وَاِذْ غَدَوْتَ مِنْ اَهْلِكَ تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِيْنَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۙ ۝١٢١

wa idz ghadauta min ahlika tubawwi’ul-mu’minîna maqâ’ida lil-qitâl, wallâhu samî’un ‘alîm

(Ingatlah) di mana engkau (Nabi Muhammad) berangkat pada pagi hari meninggalkan keluargamu untuk mengatur orang-orang mukmin pada pos-pos pertempuran. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

اِذْ هَمَّتْ طَّۤاىِٕفَتٰنِ مِنْكُمْ اَنْ تَفْشَلَاۙ وَاللّٰهُ وَلِيُّهُمَاۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ۝١٢٢

idz hammath thâ’ifatâni mingkum an tafsyalâ wallâhu waliyyuhumâ, wa ‘alallâhi falyatawakkalil-mu’minûn

(Ingatlah) di mana dua golongan dari pihak kamu ingin (mundur) oleh sebab itu takut, padahal Allah adalah penolong mereka. Oleh lantaran itu, hendaklah terhadap Allah sekadar orang-orang mukmin bertawakal.

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّٰهُ بِبَدْرٍ وَّاَنْتُمْ اَذِلَّةٌۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ۝١٢٣

wa laqad nasharakumullâhu bibadriw wa antum adzillah, fattaqullâha la’allakum tasykurûn

Sungguh, Allah benar-benar telah terjadi menolong kamu di Perang Badar, padahal kamu (pada pada waktu itu) adalah orang-orang lemah. Oleh akibat itu, bertakwalah terhadap Allah agar kamu bersyukur.

اِذْ تَقُوْلُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ اَلَنْ يَّكْفِيَكُمْ اَنْ يُّمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلٰثَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُنْزَلِيْنَۗ ۝١٢٤

idz taqûlu lil-mu’minîna a lay yakfiyakum ay yumiddakum rabbukum bitsalâtsati âlâfim minal-malâ’ikati munzalîn

(Ingatlah) ketika engkau (Nabi Muhammad) mengungkapkan terhadap orang-orang mukmin, “Apakah tidaklah cukup bagimu bahwa Tuhanmu membantumu dengan tiga ribu malaikat yang tersebut diturunkan (dari langit)?”

بَلٰٓىۙ اِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا وَيَأْتُوْكُمْ مِّنْ فَوْرِهِمْ هٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُسَوِّمِيْنَ ۝١٢٥

balâ in tashbirû wa tattaqû wa ya’tûkum min faurihim hâdzâ yumdidkum rabbukum bikhamsati âlâfim minal-malâ’ikati musawwimîn

“Ya (cukup).” Jika kamu bersabar kemudian bertakwa, setelah itu merekan datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang mana memakai tanda.

وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشْرٰى لَكُمْ وَلِتَطْمَىِٕنَّ قُلُوْبُكُمْ بِهٖۗ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِۙ ۝١٢٦

wa mâ ja’alahullâhu illâ busyrâ lakum wa litathma’inna qulûbukum bih, wa man-nashru illâ min ‘indillâhil-‘azîzil-ḫakîm

Allah bukan menjadikannya (pertolongan itu) kecuali belaka sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)-mu lalu agar hatimu tenang karenanya. Tidak ada kemenangan selain dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

لِيَقْطَعَ طَرَفًا مِّنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْ يَكْبِتَهُمْ فَيَنْقَلِبُوْا خَاۤىِٕبِيْنَ ۝١٢٧

liyaqtha’a tharafam minalladzîna kafarû au yakbitahum fa yangqalibû khâ’ibîn

(Hal itu dilakukan) untuk membinasakan segolongan khalayak yang kufur atau untuk menjadikan mereka hina sehingga mereka kembali tanpa memperoleh apa pun.

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْاَمْرِ شَيْءٌ اَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ اَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَاِنَّهُمْ ظٰلِمُوْنَ ۝١٢٨

laisa laka minal-amri syai’un au yatûba ‘alaihim au yu’adzdzibahum fa innahum dhâlimûn

Hal itu identik sekali tidak menjadi urusanmu (Nabi Muhammad), apakah Allah menerima tobat merekan atau mengazabnya dikarenakan sesungguhnya mereka itu orang-orang zalim.

وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ يَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌࣖ ۝١٢٩

wa lillâhi mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, yaghfiru limay yasyâ’u wa yu’adzdzibu may yasyâ’, wallâhu ghafûrur raḫîm

Milik Allahlah segala yang mana ada ke langit kemudian segala yang tersebut ada di dalam bumi. Dia mengampuni siapa yang digunakan Dia kehendaki dan juga mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰوٓا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةًۖ وَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ ۝١٣٠

yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ ta’kulur-ribâ adl’âfam mudlâ’afataw wattaqullâha la’allakum tufliḫûn

Wahai orang-orang yang mana beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda juga bertakwalah untuk Allah agar kamu beruntung.

وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْٓ اُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِيْنَۚ ۝١٣١wattaqun-nârallatî u’iddat lil-kâfirînLindungilah dirimu dari api neraka yang dimaksud disediakan bagi orang-orang kafir.

وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَۚ ۝١٣٢

wa athî’ullâha war-rasûla la’allakum tur-ḫamûn

Taatilah Allah juga Rasul (Nabi Muhammad) agar kamu diberi rahmat.

۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ۝١٣٣

wa sâri’û ilâ maghfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘ardluhas-samâwâtu wal-ardlu u’iddat lil-muttaqîn

Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu kemudian surga (yang) luasnya (seperti) langit lalu bumi yang disediakan bagi orang-orang yang digunakan bertakwa,

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ۝١٣٤

alladzîna yunfiqûna fis-sarrâ’i wadl-dlarrâ’i wal-kâdhimînal-ghaidha wal-‘âfîna ‘anin-nâs, wallâhu yuḫibbul-muḫsinîn

(yaitu) orang-orang yang digunakan setiap saat berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang tersebut mengendalikan kemurkaannya, kemudian orang-orang yang memaafkan (kesalahan) penduduk lain. Allah mencintai orang-orang yang tersebut berbuat kebaikan.

وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ۝١٣٥

walladzîna idzâ fa’alû fâḫisyatan au dhalamû anfusahum dzakarullâha fastaghfarû lidzunûbihim, wa may yaghfirudz-dzunûba illallâh, wa lam yushirrû ‘alâ mâ fa’alû wa hum ya’lamûn

Demikian (juga) orang-orang yang dimaksud apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah tak lama kemudian memohon ampunan berhadapan dengan dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang tersebut dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tak meneruskan apa yang dimaksud dia kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka itu mengetahui(-nya).

اُولٰۤىِٕكَ جَزَاۤؤُهُمْ مَّغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَجَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ وَنِعْمَ اَجْرُ الْعٰمِلِيْنَۗ ۝١٣٦

ulâ’ika jazâ’uhum maghfiratum mir rabbihim wa jannâtun tajrî min taḫtihal-an-hâru khâlidîna fîhâ, wa ni’ma ajrul-‘âmilîn

Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka itu kemudian surga-surga yang mana mengalir dalam bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. (Itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang digunakan mengerjakan (amal-amal saleh).

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌۙ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ ۝١٣٧

qad khalat ming qablikum sunanun fa sîrû fil-ardli fandhurû kaifa kâna ‘âqibatul-mukadzdzibîn

Sungguh, telah terjadi berlalu sebelum kamu sunah-sunah (Allah). Oleh oleh sebab itu itu, berjalanlah di dalam (segenap penjuru) bumi serta perhatikanlah bagaimana kesudahan para pendusta (rasul-rasul).

هٰذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَّمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِيْنَ ۝١٣٨

hâdzâ bayânul lin-nâsi wa hudaw wa mau’idhatul lil-muttaqîn

Inilah (Al-Qur’an) suatu penjelasan yang dimaksud jelas untuk semua manusia, petunjuk, kemudian pelajaran bagi orang-orang yang digunakan bertakwa.

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ۝١٣٩

wa lâ tahinû wa lâ taḫzanû wa antumul-a’launa ing kuntum mu’minîn

Janganlah kamu (merasa) lemah kemudian jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling membesar (derajatnya) jikalau kamu orang-orang mukmin.

اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗۗ وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاۤءَۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَۙ ۝١٤٠

iy yamsaskum qar-ḫun fa qad massal-qauma qar-ḫum mitsluh, wa tilkal-ayyâmu nudâwiluhâ bainan-nâs, wa liya’lamallâhulladzîna âmanû wa yattakhidza mingkum syuhadâ’, wallâhu lâ yuḫibbudh-dhâlimîn

Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka dia pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang dimaksud serupa. Masa (kejayaan kemudian kehancuran) itu Kami pergilirkan di dalam antara manusia (agar dia mendapat pelajaran) dan juga Allah mengetahui orang-orang beriman (yang sejati) lalu sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Allah bukan menyukai orang-orang zalim.

وَلِيُمَحِّصَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَمْحَقَ الْكٰفِرِيْنَ ۝١٤١

wa liyumaḫḫishallâhulladzîna âmanû wa yam-ḫaqal-kâfirîn

(Pergiliran yang disebutkan juga) agar Allah membersihkan orang-orang yang dimaksud beriman (dari dosa mereka) juga membinasakan orang-orang kafir.

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٤٢

am ḫasibtum an tadkhulul-jannata wa lammâ ya’lamillâhulladzîna jâhadû mingkum wa ya’lamash-shâbirîn

Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang tersebut berjihad di antara kamu dan juga belum nyata pula orang-orang yang sabar.

وَلَقَدْ كُنْتُمْ تَمَنَّوْنَ الْمَوْتَ مِنْ قَبْلِ اَنْ تَلْقَوْهُۖ فَقَدْ رَاَيْتُمُوْهُ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَࣖ ۝١٤٣

wa laqad kuntum tamannaunal-mauta ming qabli an talqauhu fa qad ra’aitumûhu wa antum tandhurûn

Sungguh, kamu benar-benar mengharapkan meninggal (syahid) sebelum kamu menghadapinya (peperangan). Maka, (sekarang) kamu sungguh telah dilakukan mengawasi (peperangan itu) dan juga menyaksikan (kematian).

وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ اَفَا۟ىِٕنْ مَّاتَ اَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْۗ وَمَنْ يَّنْقَلِبْ عَلٰى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَّضُرَّ اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ وَسَيَجْزِى اللّٰهُ الشّٰكِرِيْنَ ۝١٤٤

wa mâ muḫammadun illâ rasûl, qad khalat ming qablihir-rusul, a fa im mâta au qutilangqalabtum ‘alâ a’qâbikum, wa may yangqalib ‘alâ ‘aqibaihi fa lay yadlurrallâha syai’â, wa sayajzillâhusy-syâkirîn

(Nabi) Muhammad hanyalah pribadi rasul. Sebelumnya sudah berlalu beberapa rasul. Apakah jikalau beliau wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Siapa yang mana berbalik ke belakang, maka ia tidaklah akan mendatangkan mudarat terhadap Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan untuk orang-orang yang dimaksud bersyukur.

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تَمُوْتَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ كِتٰبًا مُّؤَجَّلًاۗ وَمَنْ يُّرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَاۚ وَمَنْ يُّرِدْ ثَوَابَ الْاٰخِرَةِ نُؤْتِهٖ مِنْهَاۗ وَسَنَجْزِى الشّٰكِرِيْنَ ۝١٤٥

wa mâ kâna linafsin an tamûta illâ bi’idznillâhi kitâbam mu’ajjalâ, wa may yurid tsawâbad-dun-yâ nu’tihî min-hâ, wa may yurid tsawâbal-âkhirati nu’tihî min-hâ, wa sanajzisy-syâkirîn

Setiap yang dimaksud bernyawa bukan akan mati, kecuali dengan izin Allah sebagai ketetapan yang tersebut sudah pernah ditentukan waktunya. Siapa yang mana menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu lalu siapa yang tersebut menghendaki pahala akhirat, niscaya Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu. Kami akan memberi balasan terhadap orang-orang yang bersyukur.

وَكَاَيِّنْ مِّنْ نَّبِيٍّ قٰتَلَۙ مَعَهٗ رِبِّيُّوْنَ كَثِيْرٌۚ فَمَا وَهَنُوْا لِمَآ اَصَابَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَمَا ضَعُفُوْا وَمَا اسْتَكَانُوْاۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٤٦

wa ka’ayyim min nabiyying qâtala ma’ahû ribbiyyûna katsîr, fa mâ wahanû limâ ashâbahum fî sabîlillâhi wa mâ dla’ufû wa mastakânû, wallâhu yuḫibbush-shâbirîn

Betapa berbagai nabi yang mana berperang didampingi banyak besar dari pengikut(-nya) yang digunakan bertakwa. Mereka tak (menjadi) lemah akibat bencana yang digunakan menimpanya ke jalan Allah, tiada patah semangat, juga tidaklah (pula) menyerah (kepada musuh). Allah mencintai orang-orang yang mana sabar.

وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ اِلَّآ اَنْ قَالُوْا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَاِسْرَافَنَا فِيْٓ اَمْرِنَا وَثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ ۝١٤٧

wa mâ kâna qaulahum illâ ang qâlû rabbanaghfir lanâ dzunûbanâ wa isrâfanâ fî amrinâ wa tsabbit aqdâmanâ wanshurnâ ‘alal-qaumil-kâfirîn

Tidak lain ucapan merek kecuali doa, “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami serta tindakan-tindakan kami yang digunakan berlebihan pada urusan kami, tetapkanlah pendirian kami, dan juga tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

فَاٰتٰىهُمُ اللّٰهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَࣖ ۝١٤٨

fa âtâhumullâhu tsawâbad-dun-yâ wa ḫusna tsawâbil-âkhirah, wallâhu yuḫibbul-muḫsinîn

Maka, Allah menganugerahi mereka balasan (di) dunia serta pahala yang dimaksud baik (di) akhirat. Allah mencintai orang-orang yang dimaksud berbuat kebaikan.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تُطِيْعُوا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَرُدُّوْكُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوْا خٰسِرِيْنَ ۝١٤٩

yâ ayyuhalladzîna âmanû in tuthî’ulladzîna kafarû yaruddûkum ‘alâ a’qâbikum fa tangqalibû khâsirîn

Wahai orang-orang yang dimaksud beriman, jikalau kamu menaati orang-orang yang digunakan kufur, niscaya mereka akan memulihkan kamu ke belakang (murtad). Akibatnya, kamu akan kembali pada keadaan merugi.

بَلِ اللّٰهُ مَوْلٰىكُمْۚ وَهُوَ خَيْرُ النّٰصِرِيْنَ ۝١٥٠

balillâhu maulâkum, wa huwa khairun nâshirîn

Namun, (hanya) Allahlah pelindungmu dan juga Dia penolong yang terbaik.

سَنُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَٓا اَشْرَكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًاۚ وَمَأْوٰىهُمُ النَّارُۗ وَبِئْسَ مَثْوَى الظّٰلِمِيْنَ ۝١٥١

sanulqî fî qulûbilladzîna kafarur-ru’ba bimâ asyrakû billâhi mâ lam yunazzil bihî sulthânâ, wa ma’wâhumun-nâr, wa bi’sa matswadh-dhâlimîn

Kami akan memasukkan rasa takut ke pada hati orang-orang yang mana kufur akibat merekan mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang mana Allah tiada menurunkan pernyataan tentangnya. Tempat kembali merekan adalah neraka. (Itulah) seburuk-buruk tempat tinggal (bagi) orang-orang zalim.

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللّٰهُ وَعْدَهٗٓ اِذْ تَحُسُّوْنَهُمْ بِاِذْنِهٖۚ حَتّٰىٓ اِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِى الْاَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَآ اَرٰىكُمْ مَّا تُحِبُّوْنَۗ مِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الْاٰخِرَةَۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْۚ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْۗ وَاللّٰهُ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ ۝١٥٢

wa laqad shadaqakumullâhu wa’dahû idz taḫussûnahum bi’idznih, ḫattâ idzâ fasyiltum wa tanâza’tum fil-amri wa ‘ashaitum mim ba’di mâ arâkum mâ tuḫibbûn, mingkum may yurîdud-dun-yâ wa mingkum may yurîdul-âkhirah, tsumma sharafakum ‘an-hum liyabtaliyakum, wa laqad ‘afâ ‘angkum, wallâhu dzû fadllin ‘alal-mu’minîn

Sungguh, Allah benar-benar telah dilakukan memenuhi janji-Nya kepadamu pada saat kamu membunuh merek dengan izin-Nya sampai pada ketika kamu (dalam keadaan) lemah, berselisih di urusan itu, kemudian mengabaikan (perintah Rasul) pasca Allah memperlihatkan kepadamu apa yang dimaksud kamu sukai. Di antara kamu ada khalayak yang digunakan menghendaki bumi serta di dalam antara kamu ada (pula) khalayak yang digunakan menghendaki akhirat. Kemudian, Allah memalingkan kamu dari dia untuk mengujimu. Sungguh, Dia benar-benar telah terjadi memaafkan kamu. Allah mempunyai karunia (yang diberikan) terhadap orang-orang mukmin.

۞ اِذْ تُصْعِدُوْنَ وَلَا تَلْوٗنَ عَلٰٓى اَحَدٍ وَّالرَّسُوْلُ يَدْعُوْكُمْ فِيْٓ اُخْرٰىكُمْ فَاَثَابَكُمْ غَمًّا ۢ بِغَمٍّ لِّكَيْلَا تَحْزَنُوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا مَآ اَصَابَكُمْۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ۝١٥٣

idz tush’idûna wa lâ talwûna ‘alâ aḫadiw war-rasûlu yad’ûkum fî ukhrâkum fa atsâbakum ghammam bighammil likai lâ taḫzanû ‘alâ mâ fâtakum wa lâ mâ ashâbakum, wallâhu khabîrum bimâ ta’malûn

(Ingatlah) sewaktu kamu lari juga tidaklah menoleh terhadap siapa pun, sedangkan Rasul (Muhammad) memanggilmu dari belakang. Oleh dikarenakan itu, Allah menimpakan kepadamu kesedihan demi kesedihan agar kamu tidak ada bersedih hati (lagi) terhadap apa yang tersebut luput dari kamu lalu terhadap apa yang digunakan menimpamu. Allah Mahateliti terhadap apa yang mana kamu kerjakan.

ثُمَّ اَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ الْغَمِّ اَمَنَةً نُّعَاسًا يَّغْشٰى طَۤاىِٕفَةً مِّنْكُمْۙ وَطَۤاىِٕفَةٌ قَدْ اَهَمَّتْهُمْ اَنْفُسُهُمْ يَظُنُّوْنَ بِاللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِۗ يَقُوْلُوْنَ هَلْ لَّنَا مِنَ الْاَمْرِ مِنْ شَيْءٍۗ قُلْ اِنَّ الْاَمْرَ كُلَّهٗ لِلّٰهِۗ يُخْفُوْنَ فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ مَّا لَا يُبْدُوْنَ لَكَۗ يَقُوْلُوْنَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْاَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هٰهُنَاۗ قُلْ لَّوْ كُنْتُمْ فِيْ بُيُوْتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِيْنَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ اِلٰى مَضَاجِعِهِمْۚ وَلِيَبْتَلِيَ اللّٰهُ مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِيْ قُلُوْبِكُمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ ۝١٥٤

tsumma anzala ‘alaikum mim ba’dil-ghammi amanatan nu’âsay yaghsyâ thâ’ifatam mingkum wa thâ’ifatung qad ahammat-hum anfusuhum yadhunnûna billâhi ghairal-ḫaqqi dhannal-jâhiliyyah, yaqûlûna hal lanâ minal-amri min syaî’, qul innal-amra kullahû lillâh, yukhfûna fî anfusihim mâ lâ yubdûna lak, yaqûlûna lau kâna lanâ minal-amri syai’um mâ qutilnâ hâhunâ, qul lau kuntum fî buyûtikum labarazalladzîna kutiba ‘alaihimul-qatlu ilâ madlâji’ihim, wa liyabtaliyallâhu mâ fî shudûrikum wa liyumaḫḫisha mâ fî qulûbikum, wallâhu ‘alîmum bidzâtish-shudûr

Setelah kamu ditimpa kesedihan, kemudian Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang dimaksud meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi sudah mencemaskan diri dia sendiri. Mereka berprasangka yang tidak ada benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, “Adakah sesuatu yang mana dapat kita perbuat pada urusan ini?” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya segala urusan itu pada tangan Allah.” Mereka menyembunyikan di hatinya apa yang digunakan tiada merek terangkan kepadamu. Mereka berkata, “Seandainya ada sesuatu yang dimaksud dapat kami perbuat pada urusan ini, niscaya kami bukan akan dibunuh (dikalahkan) di dalam sini.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Seandainya kamu ada dalam rumahmu, niscaya orang-orang yang dimaksud telah lama ditetapkan akan tertutup terbunuh itu mengundurkan diri dari (juga) ke tempat merek terbunuh.” Allah (berbuat demikian) untuk menguji yang tersebut ada di dadamu juga untuk membersihkan yang dimaksud ada di hatimu. Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

اِنَّ الَّذِيْنَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِۙ اِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطٰنُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوْاۚ وَلَقَدْ عَفَا اللّٰهُ عَنْهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌࣖ ۝١٥٥

innalladzîna tawallau mingkum yaumaltaqal-jam’âni innamastazallahumusy-syaithânu biba’dli mâ kasabû, wa laqad ‘afallâhu ‘an-hum, innallâha ghafûrun ḫalîm

Sesungguhnya orang-orang yang berpaling pada antara kamu pada hari di mana dua pasukan bertemu, sesungguhnya mereka itu hanyalah digelincirkan oleh setan disebabkan sebagian kesalahan (dosa) yang tersebut telah terjadi dia perbuat. Allah benar-benar telah dilakukan memaafkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَقَالُوْا لِاِخْوَانِهِمْ اِذَا ضَرَبُوْا فِى الْاَرْضِ اَوْ كَانُوْا غُزًّى لَّوْ كَانُوْا عِنْدَنَا مَا مَاتُوْا وَمَا قُتِلُوْاۚ لِيَجْعَلَ اللّٰهُ ذٰلِكَ حَسْرَةً فِيْ قُلُوْبِهِمْۗ وَاللّٰهُ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ ۝١٥٦

yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ takûnû kalladzîna kafarû wa qâlû li’ikhwânihim idzâ dlarabû fil-ardli au kânû ghuzzal lau kânû ‘indanâ mâ mâtû wa mâ qutilû, liyaj’alallâhu dzâlika ḫasratan fî qulûbihim, wallâhu yuḫyî wa yumît, wallâhu bimâ ta’malûna bashîr

Wahai orang-orang yang tersebut beriman, janganlah seperti orang-orang yang digunakan kufur kemudian berbicara tentang saudara-saudaranya, apabila merekan mengadakan perjalanan di bumi atau berperang, “Seandainya mereka permanen dengan kami, tentulah dia tidaklah berakhir kemudian tiada terbunuh.” (Allah membiarkan mereka itu bersikap demikian) oleh sebab itu Allah hendak menjadikan itu (kelak) sebagai penyesalan pada hati mereka.

وَلَىِٕنْ قُتِلْتُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ۝١٥٧

wa la’ing qutiltum fî sabîlillâhi au muttum lamaghfiratum minallâhi wa raḫmatun khairum mimmâ yajma’ûn

Sungguh, apabila kamu gugur di dalam jalan Allah atau mati, pastilah ampunan Allah lalu rahmat-Nya tambahan baik (bagimu) daripada apa (harta rampasan) yang mana merekan kumpulkan.

وَلَىِٕنْ مُّتُّمْ اَوْ قُتِلْتُمْ لَاِلَى اللّٰهِ تُحْشَرُوْنَ ۝١٥٨

wa la’im muttum au qutiltum la’ilallâhi tuḫsyarûn

Sungguh, apabila kamu tertutup atau gugur, pastilah terhadap Allah kamu dikumpulkan.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ۝١٥٩

fa bimâ raḫmatim minallâhi linta lahum, walau kunta fadhdhan ghalîdhal-qalbi lanfadldlû min ḫaulika fa’fu ‘an-hum wastaghfir lahum wa syâwir-hum fil-amr, fa idzâ ‘azamta fa tawakkal ‘alallâh, innallâha yuḫibbul-mutawakkilîn

Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras juga berhati kasar, tentulah dia akan menjauh dari sekitarmu. Oleh sebab itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, kemudian bermusyawarahlah dengan merek di segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah lama membulatkan tekad, bertawakallah terhadap Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.

اِنْ يَّنْصُرْكُمُ اللّٰهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْۚ وَاِنْ يَّخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِيْ يَنْصُرُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِهٖۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ۝١٦٠

iy yanshurkumullâhu fa lâ ghâliba lakum, wa iy yakhdzulkum fa man dzalladzî yanshurukum mim ba’dih, wa ‘alallâhi falyatawakkalil-mu’minûn

Jika Allah menolongmu, tiada ada yang (dapat) mengalahkanmu serta apabila Dia membiarkanmu (tidak memberimu pertolongan), siapa yang digunakan (dapat) menolongmu pasca itu? Oleh sebab itu, hendaklah terhadap Allah cuma orang-orang mukmin bertawakal.

وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ اَنْ يَّغُلَّۗ وَمَنْ يَّغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۚ ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ ۝١٦١

wa mâ kâna linabiyyin ay yaghull, wa may yaghlul ya’ti bimâ ghalla yaumal-qiyâmah, tsumma tuwaffâ kullu nafsim mâ kasabat wa hum lâ yudhlamûn

Tidak layak seseorang nabi menyelewengkan (harta rampasan perang). Siapa yang tersebut menyelewengkan (-nya), niscaya pada hari Kiamat beliau akan datang menghadirkan apa yang digunakan diselewengkannya itu. Kemudian, setiap khalayak akan diberi balasan secara sempurna sesuai apa yang tersebut dia lakukan serta mereka itu tak dizalimi.

اَفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَ اللّٰهِ كَمَنْۢ بَاۤءَ بِسَخَطٍ مِّنَ اللّٰهِ وَمَأْوٰىهُ جَهَنَّمُۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ ۝١٦٢

a fa manittaba’a ridlwânallâhi kamam bâ’a bisakhathim minallâhi wa ma’wâhu jahannam, wa bi’sal-mashîr

Apakah pendatang yang mengikuti (jalan) rida Allah sebanding dengan khalayak yang kembali dengan menghadirkan kemurkaan dari Allah juga tempatnya adalah (neraka) Jahanam? Itulah seburuk-buruk tempat kembali.

هُمْ دَرَجٰتٌ عِنْدَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌ ۢ بِمَا يَعْمَلُوْنَ ۝١٦٣

hum darajâtun ‘indallâh, wallâhu bashîrum bimâ ya’malûnMereka bertingkat-tingkat dalam sisi Allah. Allah Maha Melihat apa yang mereka itu kerjakan.

لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَۚ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ۝١٦٤

laqad mannallâhu ‘alal-mu’minîna idz ba’atsa fîhim rasûlam min anfusihim yatlû ‘alaihim âyâtihî wa yuzakkîhim wa yu’allimuhumul-kitâba wal-ḫikmah, wa ing kânû ming qablu lafî dlalâlim mubîn

Sungguh, Allah benar-benar sudah memberi karunia terhadap orang-orang mukmin ketika (Dia) mengutus dalam tengah-tengah dia manusia Rasul (Muhammad) dari kalangan mereka itu sendiri yang tersebut membacakan untuk mereka itu ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan juga mengajarkan terhadap merekan Kitab Suci (Al-Qur’an) lalu hikmah. Sesungguhnya merekan sebelum itu benar-benar di kesesatan yang mana nyata.

اَوَلَمَّآ اَصَابَتْكُمْ مُّصِيْبَةٌ قَدْ اَصَبْتُمْ مِّثْلَيْهَاۙ قُلْتُمْ اَنّٰى هٰذَاۗ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اَنْفُسِكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ۝١٦٥

a wa lammâ ashâbatkum mushîbatung qad ashabtum mitslaihâ qultum annâ hâdzâ, qul huwa min ‘indi anfusikum, innallâha ‘alâ kulli syai’ing qadîr

Apakah sewaktu kamu ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah dilakukan memperoleh (kenikmatan) dua kali lipatnya (pada Perang Badar), kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Mahakuasa menghadapi segala sesuatu.

وَمَآ اَصَابَكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِ فَبِاِذْنِ اللّٰهِ وَلِيَعْلَمَ الْمُؤْمِنِيْنَۙ ۝١٦٦

wa mâ ashâbakum yaumaltaqal-jam’âni fa bi’idznillâhi wa liya’lamal-mu’minîn

Apa yang menimpa kamu pada hari di mana dua pasukan bertemu berlangsung menghadapi izin Allah dan juga agar Dia mengetahui siapa penduduk (yang benar-benar) beriman

وَلِيَعْلَمَ الَّذِيْنَ نَافَقُوْاۖ وَقِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَوِ ادْفَعُوْاۗ قَالُوْا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَّاتَّبَعْنٰكُمْۗ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَىِٕذٍ اَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْاِيْمَانِۚ يَقُوْلُوْنَ بِاَفْوَاهِهِمْ مَّا لَيْسَ فِيْ قُلُوْبِهِمْۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُوْنَۚ ۝١٦٧

wa liya’lamalladzîna nâfaqû wa qîla lahum ta’âlau qâtilû fî sabîlillâhi awidfa’û, qâlû lau na’lamu qitâlal lattaba’nâkum, hum lil-kufri yauma’idzin aqrabu min-hum lil-îmân, yaqûlûna bi’afwâhihim mâ laisa fî qulûbihim, wallâhu a’lamu bimâ yaktumûn

dan mengetahui orang-orang yang tersebut munafik. Dikatakan untuk mereka, “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu).” Mereka menjawab, “Seandainya kami mengetahui (bagaimana cara) berperang, tentulah kami mengikutimu.” Mereka pada hari itu lebih tinggi dekat pada kekufuran daripada keimanan. Mereka mengemukakan dengan mulutnya sesuatu yang tersebut tiada ada di hatinya. Allah lebih tinggi mengetahui segala sesuatu yang mana merek sembunyikan.

اَلَّذِيْنَ قَالُوْا لِاِخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوْا لَوْ اَطَاعُوْنَا مَا قُتِلُوْاۗ قُلْ فَادْرَءُوْا عَنْ اَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ۝١٦٨

alladzîna qâlû li’ikhwânihim wa qa’adû lau athâ’ûnâ mâ qutilû, qul fadra’û ‘an anfusikumul-mauta ing kuntum shâdiqîn

(Mereka itu adalah) orang-orang yang dimaksud berbicara tentang saudara-saudaranya (yang terlibat berperang dan juga terbunuh), sedangkan mereka itu sendiri tidaklah turut berperang, “Seandainya merek mengikuti kami, tentulah merek bukan terbunuh.” Katakanlah, “Cegahlah kematian itu dari dirimu jikalau kamu orang-orang benar.”

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًاۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَۙ ۝١٦٩

wa lâ taḫsabannalladzîna qutilû fî sabîlillâhi amwâtâ, bal aḫyâ’un ‘inda rabbihim yurzaqûn

Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang digunakan gugur di dalam jalan Allah itu mati. Sebenarnya, mereka itu itu hidup serta dianugerahi rezeki di dalam sisi Tuhannya.

فَرِحِيْنَ بِمَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۙ وَيَسْتَبْشِرُوْنَ بِالَّذِيْنَ لَمْ يَلْحَقُوْا بِهِمْ مِّنْ خَلْفِهِمْۙ اَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۘ ۝١٧٠

fariḫîna bimâ âtâhumullâhu min fadllihî wa yastabsyirûna billadzîna lam yal-ḫaqû bihim min khalfihim allâ khaufun ‘alaihim wa lâ hum yaḫzanûn

Mereka bergembira dengan karunia yang Allah anugerahkan kepadanya dan juga bergirang hati melawan (keadaan) orang-orang yang dimaksud berada pada belakang yang tersebut belum menyusul mereka, yaitu bahwa tiada ada rasa takut pada mereka itu juga mereka bukan bersedih hati.

۞ يَسْتَبْشِرُوْنَ بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَفَضْلٍۗ وَاَنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُؤْمِنِيْنَࣖ ۝١٧١

yastabsyirûna bini’matim minallâhi wa fadll, wa annallâha lâ yudlî’u ajral-mu’minîn

Mereka bergirang hati dengan nikmat kemudian karunia dari Allah kemudian bahwa sesungguhnya Allah tak menyia-nyiakan pahala orang-orang mukmin,

اَلَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِلّٰهِ وَالرَّسُوْلِ مِنْۢ بَعْدِ مَآ اَصَابَهُمُ الْقَرْحُۖ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا اَجْرٌ عَظِيْمٌۚ ۝١٧٢

alladzînastajâbû lillâhi war-rasûli mim ba’di mâ ashâbahumul-qar-ḫu lilladzîna aḫsanû min-hum wattaqau ajrun ‘adhîm

(yaitu) orang-orang yang memenuhi (seruan) Allah juga Rasul setelahnya mereka itu menderita luka-luka (dalam Perang Uhud). Orang-orang yang tersebut berbuat kebaikan dan juga bertakwa di dalam antara mereka akan mendapat pahala yang tersebut sangat besar,

اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًاۖ وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ ۝١٧٣

alladzîna qâla lahumun-nâsu innan-nâsa qad jama’û lakum fakhsyauhum fa zâdahum îmânaw wa qâlû ḫasbunallâhu wa ni’mal-wakîl

(yaitu) merekan yang tersebut (ketika ada) orang-orang mengutarakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) sudah menghimpun (pasukan) untuk (menyerang) kamu. Oleh lantaran itu, takutlah untuk mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman dia juga mereka itu menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami kemudian Dia sebaik-baik pelindung.”

فَانْقَلَبُوْا بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوْۤءٌۙ وَّاتَّبَعُوْا رِضْوَانَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ ذُوْ فَضْلٍ عَظِيْمٍ ۝١٧٤

fangqalabû bini’matim minallâhi wa fadllil lam yamsas-hum sû’uw wattaba’û ridlwânallâh, wallâhu dzû fadllin ‘adhîm

Mereka kembali dengan nikmat dan juga karunia dari Allah. Mereka bukan ditimpa suatu bencana serta mereka itu mengikuti (jalan) rida Allah. Allah mempunyai karunia yang tersebut besar.

اِنَّمَا ذٰلِكُمُ الشَّيْطٰنُ يُخَوِّفُ اَوْلِيَاۤءَهٗۖ فَلَا تَخَافُوْهُمْ وَخَافُوْنِ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ۝١٧٥

innamâ dzâlikumusy-syaithânu yukhawwifu auliyâ’ahû fa lâ takhâfûhum wa khâfûni ing kuntum mu’minîn

Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya. Oleh dikarenakan itu, janganlah takut untuk mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jikalau kamu orang-orang mukmin.

وَلَا يَحْزُنْكَ الَّذِيْنَ يُسَارِعُوْنَ فِى الْكُفْرِۚ اِنَّهُمْ لَنْ يَّضُرُّوا اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ اَلَّا يَجْعَلَ لَهُمْ حَظًّا فِى الْاٰخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌۚ ۝١٧٦

wa lâ yaḫzungkalladzîna yusâri’ûna fil-kufr, innahum lay yadlurrullâha syai’â, yurîdullâhu allâ yaj’ala lahum ḫadhdhan fil-âkhirati wa lahum ‘adzâbun ‘adhîm

Janganlah engkau (Nabi Muhammad) dirisaukan oleh orang-orang yang mana dengan cepat melakukan kekufuran. Sesungguhnya sedikit pun mereka itu tidaklah merugikan Allah. Allah bukan akan memberi bagian (pahala) untuk mereka itu ke akhirat juga dia akan mendapat azab yang sangat besar.

اِنَّ الَّذِيْنَ اشْتَرَوُا الْكُفْرَ بِالْاِيْمَانِ لَنْ يَّضُرُّوا اللّٰهَ شَيْـًٔاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۝١٧٧

innalladzînasytarawul-kufra bil-îmâni lay yadlurrullâha syai’â, wa lahum ‘adzâbun alîm

Sesungguhnya orang-orang yang membeli kekufuran dengan iman sedikit pun tidaklah merugikan Allah dan juga akan mendapat azab yang sangat pedih.

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ خَيْرٌ لِّاَنْفُسِهِمْۗ اِنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ لِيَزْدَادُوْٓا اِثْمًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ ۝١٧٨

wa lâ yaḫsabannalladzîna kafarû annamâ numlî lahum khairul li’anfusihim, innamâ numlî lahum liyazdâdû itsmâ, wa lahum ‘adzâbum muhîn

Jangan sekali-kali orang-orang kafir mengira bahwa sesungguhnya tenggang waktu yang tersebut Kami berikan kepadanya baik bagi dirinya. Sesungguhnya Kami memberinya tenggang waktu hanya sekali agar dosa merek makin bertambah lalu dia akan mendapat azab yang tersebut menghinakan.

مَا كَانَ اللّٰهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلٰى مَآ اَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتّٰى يَمِيْزَ الْخَبِيْثَ مِنَ الطَّيِّبِۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَجْتَبِيْ مِنْ رُّسُلِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۖ فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖۚ وَاِنْ تُؤْمِنُوْا وَتَتَّقُوْا فَلَكُمْ اَجْرٌ عَظِيْمٌ ۝١٧٩

mâ kânallâhu liyadzaral-mu’minîna ‘alâ mâ antum ‘alaihi ḫattâ yamîzal-khabîtsa minath-thayyib, wa mâ kânallâhu liyuthli’akum ‘alal-ghaibi wa lâkinnallâha yajtabî mir rusulihî may yasyâ’u fa âminû billâhi wa rusulih, wa in tu’minû wa tattaqû fa lakum ajrun ‘adhîm

Allah tak akan membiarkan orang-orang mukmin di keadaan sebagaimana kamu sekarang ini, (tetapi Allah akan mengujinya) sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang mana baik. Allah bukan akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang tersebut gaib, tetapi Allah memilih siapa yang Dia kehendaki di dalam antara rasul-rasul-Nya. Oleh lantaran itu, berimanlah terhadap Allah juga rasul-rasul-Nya. Jika kamu beriman juga bertakwa, kamu akan mendapat pahala yang tersebut sangat besar.

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ بِمَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ هُوَ خَيْرًا لَّهُمْۗ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْۗ سَيُطَوَّقُوْنَ مَا بَخِلُوْا بِهٖ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ وَلِلّٰهِ مِيْرَاثُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌࣖ ۝١٨٠

wa lâ yaḫsabannalladzîna yabkhalûna bimâ âtâhumullâhu min fadllihî huwa khairal lahum, bal huwa syarrul lahum, sayuthawwaqûna mâ bakhilû bihî yaumal-qiyâmah, wa lillâhi mîrâtsus-samâwâti wal-ardl, wallâhu bimâ ta’malûna khabîr

Jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan karunia yang digunakan Allah anugerahkan kepadanya mengira bahwa (kekikiran) itu baik bagi mereka. Sebaliknya, (kekikiran) itu buruk bagi mereka. Pada hari Kiamat, merekan akan dikalungi dengan sesuatu yang digunakan dengannya mereka berbuat kikir. Milik Allahlah warisan (yang ada di) langit juga di dalam bumi. Allah Mahateliti terhadap apa yang mana kamu kerjakan.

لَقَدْ سَمِعَ اللّٰهُ قَوْلَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ فَقِيْرٌ وَّنَحْنُ اَغْنِيَاۤءُۘ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوْا وَقَتْلَهُمُ الْاَنْۢبِيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۙ وَّنَقُوْلُ ذُوْقُوْا عَذَابَ الْحَرِيْقِ ۝١٨١

laqad sami’allâhu qaulalladzîna qâlû innallâha faqîruw wa naḫnu aghniyâ’, sanaktubu mâ qâlû wa qatlahumul-ambiyâ’a bighairi ḫaqqiw wa naqûlu dzûqû ‘adzâbal-ḫarîq

Sungguh, Allah benar-benar sudah mendengar perkataan orang-orang (Yahudi) yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu miskin lalu kami kaya.” Kami akan mencatatkan perkataan mereka itu juga pembunuhan terhadap nabi-nabi yang digunakan merekan lakukan tanpa hak (alasan yang mana benar). Kami akan mengutarakan (kepada merekan pada hari Kiamat), “Rasakanlah azab yang membakar!”

ذٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْكُمْ وَاَنَّ اللّٰهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِۚ ۝١٨٢

dzâlika bimâ qaddamat aidîkum wa annallâha laisa bidhallâmil lil-‘abîd

Yang demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu (sendiri) serta sesungguhnya Allah (sama sekali) bukan menzalimi hamba-hamba-Nya.

اَلَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ عَهِدَ اِلَيْنَآ اَلَّا نُؤْمِنَ لِرَسُوْلٍ حَتّٰى يَأْتِيَنَا بِقُرْبَانٍ تَأْكُلُهُ النَّارُۗ قُلْ قَدْ جَاۤءَكُمْ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِيْ بِالْبَيِّنٰتِ وَبِالَّذِيْ قُلْتُمْ فَلِمَ قَتَلْتُمُوْهُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ۝١٨٣

alladzîna qâlû innallâha ‘ahida ilainâ allâ nu’mina lirasûlin ḫattâ ya’tiyanâ biqurbânin ta’kuluhun-nâr, qul qad jâ’akum rusulum ming qablî bil-bayyinâti wa billadzî qultum fa lima qataltumûhum ing kuntum shâdiqîn

(Mereka adalah) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah sudah memerintahkan untuk kami agar kami tidak ada beriman terhadap pribadi rasul sebelum ia mendatangkan terhadap kami kurban yang tersebut dimakan api (yang datang dari langit).” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sungguh, beberapa rasul sebelumku sudah datang kepadamu dengan (membawa) bukti-bukti yang tersebut nyata serta menghadirkan apa yang kamu sebutkan. Akan tetapi, mengapa kamu membunuh merekan jikalau kamu orang-orang yang digunakan benar?”

فَاِنْ كَذَّبُوْكَ فَقَدْ كُذِّبَ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِكَ جَاۤءُوْ بِالْبَيِّنٰتِ وَالزُّبُرِ وَالْكِتٰبِ الْمُنِيْرِ ۝١٨٤

fa ing kadzdzabûka fa qad kudzdziba rusulum ming qablika jâ’û bil-bayyinâti waz-zuburi wal-kitâbil-munîr

Maka, jikalau mereka mendustakanmu (Nabi Muhammad), sungguh rasul-rasul sebelummu pun sudah pernah didustakan. Mereka datang dengan (membawa) mukjizat-mukjizat yang digunakan nyata, zubur, lalu Alkitab yang dimaksud memberi penjelasan yang mana sempurna.

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ ۝١٨٥

kullu nafsin dzâ’iqatul maût, wa innamâ tuwaffauna ujûrakum yaumal-qiyâmah, fa man zuḫziḫa ‘anin-nâri wa udkhilal-jannata fa qad fâz, wa mal-ḫayâtud-dun-yâ illâ matâ’ul-ghurûr

Setiap yang mana bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dimaksud dijauhkan dari neraka lalu dimasukkan ke di surga, sungguh ia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang mana memperdaya.

۞ لَتُبْلَوُنَّ فِيْٓ اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْٓا اَذًى كَثِيْرًاۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ۝١٨٦

latublawunna fî amwâlikum wa anfusikum, wa latasma’unna minalladzîna ûtul-kitâba ming qablikum wa minalladzîna asyrakû adzang katsîrâ, wa in tashbirû wa tattaqû fa inna dzâlika min ‘azmil-umûr

Kamu pasti akan diuji pada (urusan) hartamu lalu dirimu. Kamu pun pasti akan mendengar berbagai hal yang tersebut sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang mana diberi Alkitab sebelum kamu juga dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan juga bertakwa, sesungguhnya yang digunakan demikian itu salah satunya urusan yang mana (patut) diutamakan.

وَاِذْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهٗ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُوْنَهٗۖ فَنَبَذُوْهُ وَرَاۤءَ ظُهُوْرِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًاۗ فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُوْنَ ۝١٨٧

wa idz akhadzallâhu mîtsâqalladzîna ûtul-kitâba latubayyinunnahû lin-nâsi wa lâ taktumûnahû fa nabadzûhu warâ’a dhuhûrihim wasytarau bihî tsamanang qalîlâ, fa bi’sa mâ yasytarûn

(Ingatlah) ketika Allah menimbulkan perjanjian dengan orang-orang yang tersebut telah terjadi diberi Alkitab (dengan berfirman), “Hendaklah kamu benar-benar menerangkan (isi Alkitab itu) terhadap manusia kemudian janganlah kamu menyembunyikannya.” Lalu, mereka itu melemparkannya (janji itu) ke belakang punggung merek (mengabaikannya) kemudian menukarnya dengan tarif yang dimaksud murah. Maka, itulah seburuk-buruk jual beli yang merekan lakukan.

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَفْرَحُوْنَ بِمَآ اَتَوْا وَّيُحِبُّوْنَ اَنْ يُّحْمَدُوْا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوْا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۝١٨٨

lâ taḫsabannalladzîna yafraḫûna bimâ ataw wa yuḫibbûna ay yuḫmadû bimâ lam yaf’alû fa lâ taḫsabannahum bimafâzatim minal-‘adzâb, wa lahum ‘adzâbun alîm

Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa warga yang digunakan gembira dengan apa (perbuatan buruk) yang digunakan sudah dia kerjakan kemudian suka dipuji menghadapi perbuatan (yang merekan anggap baik) yang tersebut tiada dia lakukan, kamu jangan sekali-kali mengira bahwa mereka itu akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang digunakan sangat pedih.

وَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌࣖ ۝١٨٩

wa lillâhi mulkus-samâwâti wal-ardl, wallâhu ‘alâ kulli syai’ing qadîr

Milik Allahlah kerajaan langit kemudian bumi. Allah Mahakuasa melawan segala sesuatu.

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ ۝١٩٠

inna fî khalqis-samâwâti wal-ardli wakhtilâfil-laili wan-nahâri la’âyâtil li’ulil-albâb

Sesungguhnya pada penciptaan langit lalu bumi dan juga pergantian waktu malam dan juga siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi pendatang yang berakal,

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ۝١٩١

alladzîna yadzkurûnallâha qiyâmaw wa qu’ûdaw wa ‘alâ junûbihim wa yatafakkarûna fî khalqis-samâwâti wal-ardl, rabbanâ mâ khalaqta hâdzâ bâthilâ, sub-ḫânaka fa qinâ ‘adzâban-nâr

(yaitu) orang-orang yang tersebut mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau pada keadaan berbaring, serta memikirkan tentang penciptaan langit dan juga bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.

رَبَّنَآ اِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ اَخْزَيْتَهٗۗ وَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ ۝١٩٢

rabbanâ innaka man tudkhilin-nâra fa qad akhzaitah, wa mâ lidh-dhâlimîna min anshâr

Ya Tuhan kami, sesungguhnya warga yang Engkau masukkan ke di neraka, maka Engkau benar-benar sudah menghinakannya serta tidaklah ada manusia penolong pun bagi pemukim yang zalim.

رَبَّنَآ اِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُّنَادِيْ لِلْاِيْمَانِ اَنْ اٰمِنُوْا بِرَبِّكُمْ فَاٰمَنَّاۖ رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّاٰتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْاَبْرَارِۚ ۝١٩٣

rabbanâ innanâ sami’nâ munâdiyay yunâdî lil-îmâni an âminû birabbikum fa âmannâ rabbanâ faghfir lanâ dzunûbanâ wa kaffir ‘annâ sayyi’âtinâ wa tawaffanâ ma’al-abrâr

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar khalayak yang menyeru pada keimanan, yaitu ‘Berimanlah kamu terhadap Tuhanmu,’ maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, juga wafatkanlah kami beserta orang-orang yang dimaksud terus-menerus berbuat kebaikan.

رَبَّنَا وَاٰتِنَا مَا وَعَدْتَّنَا عَلٰى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ اِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ ۝١٩٤

rabbanâ wa âtinâ mâ wa’attanâ ‘alâ rusulika wa lâ tukhzinâ yaumal-qiyâmah, innaka lâ tukhliful-mî’âd

Ya Tuhan kami, anugerahilah kami apa yang dimaksud sudah pernah Engkau janjikan terhadap kami melalui rasul-rasul-Mu lalu janganlah Engkau hinakan kami pada hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tak pernah mengingkari janji.”

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ اَنِّيْ لَآ اُضِيْعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنْكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰىۚ بَعْضُكُمْ مِّنْۢ بَعْضٍۚ فَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَاُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَاُوْذُوْا فِيْ سَبِيْلِيْ وَقٰتَلُوْا وَقُتِلُوْا لَاُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَلَاُدْخِلَنَّهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۚ ثَوَابًا مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الثَّوَابِ ۝١٩٥

fastajâba lahum rabbuhum annî lâ udlî’u ‘amala ‘âmilim mingkum min dzakarin au untsâ, ba’dlukum mim ba’dl, falladzîna hâjarû wa ukhrijû min diyârihim wa ûdzû fî sabîlî wa qâtalû wa qutilû la’ukaffiranna ‘an-hum sayyi’âtihim wa la’udkhilannahum jannâtin tajrî min taḫtihal-an-hâr, tsawâbam min ‘indillâh, wallâhu ‘indahû ḫusnuts-tsawâb

Maka, Tuhan merek memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tiada menyia-nyiakan perbuatan pemukim yang dimaksud beramal ke antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah (keturunan) dari sebagian yang digunakan lain. Maka, orang-orang yang mana berhijrah, diusir dari kampung halamannya, disakiti pada jalan-Ku, berperang, serta terbunuh, pasti akan Aku hapus kesalahan mereka kemudian pasti Aku masukkan dia ke di surga-surga yang mana mengalir ke bawahnya sungai-sungai sebagai pahala dari Allah. Di sisi Allahlah ada pahala yang digunakan baik.”

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِى الْبِلَادِۗ ۝١٩٦

lâ yaghurrannaka taqallubulladzîna kafarû fil-bilâd

Jangan sekali-kali kamu teperdaya oleh bolak-balik perjalanan orang-orang yang digunakan kufur ke seluruh negeri.

مَتَاعٌ قَلِيْلٌۗ ثُمَّ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُۗ وَبِئْسَ الْمِهَادُ ۝١٩٧

matâ’ung qalîl, tsumma ma’wâhum jahannam, wa bi’sal-mihâd

(Semua itu hanyalah) kesenangan sementara, kemudian tempat kembali mereka ialah (neraka) Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.

لٰكِنِ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا نُزُلًا مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ لِّلْاَبْرَارِ ۝١٩٨

lâkinilladzînattaqau rabbahum lahum jannâtun tajrî min taḫtihal-an-hâru khâlidîna fîhâ nuzulam min ‘indillâh, wa mâ ‘indallâhi khairul lil-abrâr

Akan tetapi, orang-orang yang digunakan bertakwa terhadap Tuhannya, mereka akan mendapat surga-surga yang dimaksud mengalir di dalam bawahnya sungai-sungai juga mereka kekal di dalamnya sebagai karunia dari Allah. Apa yang mana pada sisi Allah itu lebih besar baik bagi orang-orang yang tersebut setiap saat berbuat baik.

وَاِنَّ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَمَنْ يُّؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِمْ خٰشِعِيْنَ لِلّٰهِۙ لَا يَشْتَرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ثَمَنًا قَلِيْلًاۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ۝١٩٩

wa inna min ahlil-kitâbi lamay yu’minu billâhi wa mâ unzila ilaikum wa mâ unzila ilaihim khâsyi’îna lillâhi lâ yasytarûna bi’âyâtillâhi tsamanang qalîlâ, ulâ’ika lahum ajruhum ‘inda rabbihim, innallâha sarî’ul-ḫisâb

Sesungguhnya di antara Ahlulkitab ada yang mana beriman terhadap Allah dan juga pada apa yang diturunkan terhadap kamu juga yang digunakan diturunkan untuk mereka. Mereka berendah hati untuk Allah serta tiada menukarkan ayat-ayat Allah dengan nilai murah. Mereka itu memperoleh pahala dalam sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah Mahacepat perhitungan-Nya.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَࣖ ۝٢٠٠

yâ ayyuhalladzîna âmanushbirû wa shâbirû wa râbithû, wattaqullâha la’allakum tufliḫûn

Wahai orang-orang yang digunakan beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga ke perbatasan (negerimu), lalu bertakwalah terhadap Allah agar kamu beruntung.

Artikel ini disadur dari Surat Ali Imran Full: Arab, Latin dan Terjemahannya

Related Articles

Back to top button
516519508504506491511515513507503499505493483514500479502489488485512501495496480486517518497498487484490481492494509510123142128136127130121131145147111112134135152156107125122141106119124129113114154155120126115116146149148153132133150151data analytics dinamika monitoring rtp mahjong fleksibelinovasi data analytics evaluasi rtp mahjong bertahapstrategi mengenal fitur bonus pragmatic play lebih dekatstarlight princess kembali naik daun di pencarian googleslot online dan perubahan kebiasaan konsumsi konten game digitalmengenal tren slot online yang sering dibahas pengguna internetanalisis lengkap mengenai fenomena slot online di media sosialmengapa topik slot online terus menarik perhatian pembaca digitalBocoran Pola RTP Game Mahjong Ways dari Sistem Pemantauan Permainan DigitalInformasi Pola RTP Game Mahjong Ways Terupdate Dari Bocoran Admin Pusatsuper scatter sajikan bonus infinity reward yang penuh peluangstarlight princess sajikan bonus galaxy shine event yang berkilaukajian slot online yang mengamati perkembangan permainan wild west gold dan aktivitas komunitaskajian slot online yang mengamati perkembangan permainan ganesha fortune dan tren komunitaskajian teknologi infrastruktur adaptif di mahjong ways 2 mendorong perkembangan platform masa depanpendekatan monitoring cerdas berbasis algoritma pada pg soft memperkuat fondasi sistem interaktifinformasi rtp live yang mengulas perkembangan permainan ganesha fortune dan tren permainaninformasi rtp live yang mengulas perkembangan permainan ganesha fortune dan tren komunitassuper scatter bagikan bonus mega scatter celebrationslot pragmatic play tawarkan bonus golden crown celebration456789kajian teknologi infrastruktur adaptif di pg soft mendorong perkembangan platform masa depantrik evaluasi inovasi rtp mahjong ways fleksibelinformasi rtp live yang mengulas perkembangan permainan fortune olympus dan tren komunitascerita unik bendera pendemo mbg berdampingan dengan banner situs slotcatatan penting sebelum mencoba mahjong ways untuk pertama kalisuper scatter tawarkan bonus scatter royal celebrationfenomena slot online yang sering menjadi bahan pembahasan komunitasulasan fitur buy spin dan risikonya menurut pendemoteknik membaca pola rtp game online untuk meningkatkan efisiensi bermainpanduan pendemo mbg menelusuri momen menarik di starlight princess secara bertahapsuasana bermain yang lebih nyaman dengan langkah sederhanaketika suara teriakan orasi tenggelam oleh efek suara scattermengenal cara bermain dengan persiapan yang lebih matangsuper scatter tawarkan bonus super scatter party yang meriahpola lucky neko paling gacor rekomendasi suhu mbgcara pintar memulai permainan dengan rasa lebih percaya diriinformasi jam hoki yang membahas pola permainan ganesha fortune dan tren permainanrahasia mbg dalam mengamati siklus wild bandito dari berbagai perspektif