Simak Perbedaan Haji lalu Umrah Beserta Tata Caranya

Jakarta – Haji juga umrah adalah ibadah yang mana dilaksanakan di dalam Tanah Suci. Meski serupa, keduanya miliki beberapa orang perbedaan. Menurut buku Panduan Haji & Umrah untuk Wanita oleh Waway Qodratulloh, dari segi bahasa, haji berasal dari bahasa Arab yang digunakan bermakna “al qashdu ila kulli syai,” yang digunakan berarti “menuju sesuatu.”
Secara syariat, haji diartikan sebagai proses beribadah terhadap Allah SWT dengan melaksanakan tata cara ibadah haji sesuai petunjuk Nabi Muhammad SAW. Sementara itu, umrah berasal dari kata “al jiarah” yang digunakan artinya “berkunjung.” Beberapa ulama menyampaikan umrah sebagai “haji kecil.”
1. Kunjungan ke Armuzna
Menurut buku Ensiklopedia Fikih Indonesia: Haji & Umrah oleh Ahmad Sarwat, haji melibatkan kunjungan ke tempat-tempat seperti Arafah, Muzdalifah, dan juga Mina (Armuzna), yang tersebut berada di dalam luar kota Makkah dengan jarak 5-25 km. Di sana, umat Islam harus menginap atau mabit kemudian melakukan aktivitas di dalam sedang padang pasir. Sebaliknya, umrah hanya saja melibatkan Ka’bah lalu tempat Sa’i yang dimaksud terletak pada pada Masjidil Haram, Daerah Perkotaan Makkah.
2. Waktu Pelaksanaan
Umrah dapat dilaksanakan kapan sekadar sepanjang tahun tanpa ketentuan waktu tertentu. Berbeda dengan haji yang tersebut belaka dapat diwujudkan pada waktu tertentu, yaitu pada tanggal 9 Zulhijjah untuk wukuf di dalam Arafah. Oleh akibat itu, tidak ada mungkin saja umat Islam mengerjakan ibadah haji berkali-kali pada setahun, sedangkan umrah bisa jadi dilaksanakan berkali-kali.
3. Hukum
Haji hukumnya wajib bagi Muslim yang dimaksud mampu juga tergolong sebagai salah satu rukun Islam. Hal ini ditegaskan di Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 97. Sedangkan umrah, menurut mazhab Hanafi dan juga Maliki, hukumnya sunah. Namun, menurut ulama mazhab Syafi’i lalu Hanbali, umrah hukumnya wajib sekali seumur hidup, sebagaimana disebutkan di beberapa hadis Nabi Muhammad SAW.
4. Durasi
Durasi pelaksanaan haji tambahan lama dibandingkan umrah yang digunakan sanggup dilaksanakan pada hitungan jam. Haji melibatkan beberapa hari, sementara umrah dapat diselesaikan pada satu hari.
5. Persiapan Stamina dan juga Fisik
Haji membutuhkan persiapan stamina serta fisik yang mana besar dikarenakan adanya dorong-dorongan dan juga aktivitas dalam beragam tempat, sementara umrah tambahan ringan lantaran bukan ada tumpukan massa seperti pada haji. Jemaah haji banyak kali penting berjalan jarak jauh serta beraktivitas ke bawah terik matahari, sehingga kondisi fisik yang mana prima sangat diperlukan.
6. Penyembelihan Binatang Kurban
Jamaah haji yang melakukan haji qiran wajib berkurban, sebagaimana disebutkan pada Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 196. Sedangkan umrah tiada mewajibkan penyembelihan hewan kurban.
7. Penyelenggara
Haji diselenggarakan oleh Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Penyelenggara Haji kemudian Umrah (Ditjen PHU), dengan haji ONH Plus kemudian furoda diselenggarakan oleh Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK). Sebaliknya, umrah diselenggarakan oleh agen travel yang memiliki izin sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU).
8. Rukun
Rukun haji meliputi ihram, wukuf ke Arafah, thawaf, sa’i antara bukit Shafa juga Marwah, mencukur rambut, kemudian tertib. Berbeda dengan rukun umrah yang digunakan meliputi ihram, thawaf, sa’i antara Shafa dan juga Marwah, mencukur rambut, kemudian tertib. Jika salah satu rukun haji tak terpenuhi, maka ibadah haji dianggap tiada sah.
Tata-Cara Pelaksanaan Haji
1. Memulai Ihram dari Miqat yang dimaksud Telah Ditentukan
Miqat merupakan batas waktu juga tempat dilakukannya ibadah haji lalu umrah. Miqat terbagi ke di dua jenis, yakni miqat zamani (batas waktu) serta miqat makani (batas tempat). Batas waktu berhaji adalah pada bulan Syawal, Zulkaidah, kemudian Zulhijah. Sementara itu, batas tempatnya tergantung dari kedatangan jemaah haji.
Dalam menunaikan ihram terdapat banyak urutan yang dimaksud harus diperhatikan oleh jemaah haji yakni sebagai berikut:
· Mandi sunnah
· Wudhu
· Menggunakan pakaian ihram
· Menunaikan shalat sunnah ihram
· Mengucapkan niat haji
· Berangkat menuju arafah dengan membaca talbiyah
2. Wukuf di dalam Arafah pada Tanggal 9 Zulhijah
Wukuf di dalam Arafah ditunaikan pada tanggal 9 Zulhijah hingga matahari terbit pada tanggal 10 Zulhijah atau di mana Hari Raya Idul Adha. Selama melakukan wukuf, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berdoa. Selain itu, juga terdapat banyak amalan yang digunakan dapat dikerjakan ke antaranya sebagai berikut:
· Mengerjakan shalat Zuhur kemudian Ashar dengan cara jama qasar taqdim
· Mendengarkan khutbah wukuf
· Memperbanyak zikir
· Membaca Al-Quran
· Mengerjakan shalat Maghrib kemudian Isya dengan cara jama qashar taqdim
3. Menginap pada Muzdalifah
Seusai melakukan wukuf di dalam Arafah maka jemaah haji akan melakukan perjalanan dari Arafah untuk menuju ke Mina. Namun, jemaah haji akan singgah sebentar dalam Muzdalifah untuk mabit hingga terbit fajar. Berdasarkan fatwa dari MUI, mabit pada Muzdalifah hukumnya wajib kemudian apabila meninggalkannya maka harus membayarnya, kecuali bagi pelaku dengan uzur tertentu. Selain itu, jemaah haji juga disunnahkan untuk mengambil kerikil untuk lempar jumrah dalam Muzdalifah. Amalan yang dimaksud dapat ditunaikan oleh umat Islam adalah sebagai berikut :
· Membaca talbiyah
· Berzikir, beristighfar, serta berdoa
· Membaca AL-Quran
· Mencari kerikil
4. Lempar Jumrah
Selanjutnya jemaah haji akan melakukan prosesi lempar jumrah aqabah pasca matahari mulai menyingsing atau siang hari pada tanggal 10 Zulhijah dengan 7 butir kerikil yang dimaksud dilemparkan ke sebuah tugu batu yang mana berada pada Bukit Aqabah dalam Mina. Seusai melakukan lempar jumrah, maka jemaah haji dapat untuk menyembelih hewan kurban.
5. Tahallul
Tahalul merupakan bentuk pelepasan diri dari ihram haji setelahnya selesai menunaikan sebagian amalan selama haji. Tahalul terbagi berubah menjadi dua, pertama diwujudkan seusai melempar jumrah aqabah dengan cara mencukur sekurangnya tiga helai rambut. Setelah itu, jemaah haji akan melakukan tawaf ifadah juga dapat segera ke Makkah untuk melakukan beberapa jumlah amalan yakni sebagai berikut:
· Melewati pintu Babussalam di mana masuk ke Masjidil Haram
· Membaca talbiyah di mana mengerjakan tawaf ifadah
· Mencium Hajar Aswad pasca tawaf
· Mengerjakan shalat sunnah ke dekat makam Nabi Ibrahim
· Berdoa dalam Multazam
· Mengerjakan shalat sunnah di Hijir Ismail
· Mengerjakan sa’i
Selanjutnya setelahnya mengerjakan sa’i, maka akan direalisasikan tahallul kedua dengan cara menggunting sekurangnya tiga helai rambut. Seusai itu umat Islam diperbolehkan untuk mengerjakan semua larangan selama ihram satu di antaranya untuk berhubungan suami istri.
6. Menginap di Mina
Jemaah haji akan kembali menuju ke Mina pasca mengerjakan rangkaian tahallul kedua. Mabit ini dijalankan di hari Tasyrik tepatnya pada tanggal 11,12, lalu 13 Zulhijjah. Setelah matahari tergelincir pada hari Tasyrik, maka jemaah haji akan melempar tiga jumrah yang tersebut masing-masingnya terdiri dari tujuh kali. Ketiga jumrah yang dimaksud adalah jumrah ula, wusta, dan juga aqabah. Setelah itu, jemaah haji dapat kembali menuju Makkah serta seluruh rangkaian ibadah haji telah terjadi selesai.
7. Tawaf Wada
Rangkaian ibadah haji akan ditutup dengan tawaf wada sebelum jemaah haji kembali ke kampung halaman atau menuju ke Madinah untuk ziarah makam Nabi Muhammad SAW.
Tata Cara Pelaksanaan Umrah
1. Persiapan Menuju Miqat
Jamaah secara bersamaan berangkat menuju Miqat. Miqat adalah ketentuan waktu kemudian tempat yang digunakan telah terjadi ditetapkan Allah lalu Rasul-ya untuk melaksanakan haji serta umrah. Ini adalah adalah tempat dimulainya ihram atau berniat umroh.
2. Memakai Pakaian Ihram
Tata cara umroh yang mana kedua adalah memakai pakaian ihram. Untuk laki-laki, pakaian ihramnya berbentuk dua helai kain putih, kemudian salah satunya digunakan sebagai sarung. Wanita permanen diperbolehkan menggunakan pakaian apapun dengan kriteria tak menunjukkan perhiasan sekaligus menyavoid menyerupai laki-laki.
3. Berihram
Dinukil dari buku Petunjuk Praktis Manasik Haji serta Umrah karya Abu Abdillah, tata cara umroh selanjutnya adalah melakukan ihram sambil mengucapkan,
لَبَّيْكَ عُمْرَةً
Terjemahan: “Aku penuhi panggilanMu untuk menunaikan ibadah umroh,”
Tidak ada salat khusus pada saat melakukan ihram. Apabila mendapati waktu salat fardhu sebelum berihram, maka lebih lanjut baik melakukan salat dahulu.
4. Mengucap Talbiah sampai Melihat Ka’bah
Tata cara umroh yang digunakan keempat adalah membaca talbiah. Setelah membaca “لَبَّيْكَ عُمْرَةً” maka dilanjutkan dengan membaca talbiah pada bawah ini:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ
Arab-latin: Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak.
Terjemahan: “Ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada ada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya pujian juga kenikmatan hanya sekali milik-Mu, lalu kerajaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu,”
Laki-laki dianjurkan untuk mengeraskan suaranya saat bertalbiah. Sedangkan untuk wanita dianjurkan untuk melirihkan suaranya.
5. Memasuki Masjidil Haram
Sebelum menuju Makkah, jamaah dianjurkan untuk mandi. Ketika masuk ke masjidil haram, disunahkan untuk mendahulukan kaki kanan seraya mengucapkan doa
أَعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوْبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
Arab-latin: A’ûdzu billâhil ‘azhîm wa biwajhihil karîm wa sulthânihil qadîm minas syaithânir rajîm. Bismillâhi wal hamdulillâh. Allâhumma shalli wa sallim ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa ‘alâ âli sayyidinâ muhammadin. Allâhummaghfirlî dzunûbî waftahlî abwâba rahmatik.
Terjemahan: “Aku berlindung terhadap Allah Yang Maha Besar, untuk Dzat-Nya Yang Maha Mulia, kemudian terhadap kerajaan-Nya Yang Sedia dari setan yang dimaksud terlontar. Dengan nama Allah lalu segala puji bagi Allah. Hai Tuhanku, berilah shalawat dan juga sejahtera melawan Sayyidina Muhammad lalu berhadapan dengan keluarga Sayyidina Muhammad. Hai Tuhanku, ampuni untukku segala dosaku. Buka lah bagiku segala pintu rahmat-Mu.”
6. Menuju Ka’bah juga Melakukan Tawaf 7 Kali
Setelah memasuki Masjidil Haram, tata cara umroh selanjutnya adalah menuju Hajar Aswad seraya berkata “Allahuakbar” atau “Bismillahi Allahuakbar”, setelah itu mengusap dengan tangan kanan serta menciumnya di setiap putarannya.
Jika tiada bisa, maka cukup mengusap juga mencium tangan yang tersebut menyentuh Hajar Aswad. Jika tak memungkinkan lagi, maka cukup memberi isyarat dengan tangan kanan kemudian bukan mencium tangan.
Tawaf dimulai di Hajar Aswad kemudian berakhir di dalam Hajar Aswad pula. Pada tiga putaran pertama disunahkan untuk berlari-lari kecil. Sedangkan di empat putaran terakhir berjalan dengan biasa.
Jamaah setelah itu disunahkan untuk salat sunah tawaf dua rakaat dalam belakang makam Ibrahim tak lama kemudian meminum air zamzam kemudian menyiram kepala denganya.
7. Sa’i
Sa’i adalah berjalan dari Bukit Safa ke Marwa. Hal ini merupakan tata cara umroh yang tersebut ketujuh. Yang pertama dilaksanakan adalah berjalan menuju Bukit Safa. Setelah mendekati bukit tersebut, jamaah disunahkan untuk membaca surah Al-Baqarah ayat 158.
Di melawan Bukit Safa, jamaah dianjurkan untuk menghadap Ka’bah serta membaca doa berikut ini:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ
Terjemahan: “Tiada sesembahan yang mana berhak disembah kecuali semata-mata Allah semata, tidaklah ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah segala kerajaan lalu segala pujian untuk-Nya. Dia yang dimaksud menghidupkan juga yang tersebut mematikan. Dia Maha Kuasa menghadapi segala sesuatu. Tiada sesembahan yang mana berhak disembah kecuali hanya sekali Allah semata. Dialah yang sudah melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya juga mengalahkan tentara sekutu dengan sendirian,”
Selanjutnya, jamaah berjalan menuju Bukit Marwa dengan berlari-lari kecil. Lalu kembali lagi ke Bukit Safa juga melakukan sebagaimana pertama kali sebanyak-banyaknya tujuh kali putaran.
8. Tahallul
Tata cara umroh yang dimaksud kedelapan adalah tahallul atau memotong rambut. Hal ini diwujudkan seusai melakukan sa’i di dalam Bukit Safa juga Bukit Marwa. Untuk jamaah laki-laki, diutamakan untuk cukup gundul, sedangkan perempuan cukup dengan memotong rambut sepanjang satu ruas jari.
Next Article Awas! Haji Tanpa Izin Bisa Didenda Mata Uang Rupiah 208 Juta
Artikel ini disadur dari Simak Perbedaan Haji dan Umrah Beserta Tata Caranya






