Teknologi

Studi Universitas Kyushu Ungkap Pengurangan 32 Persen Limbah Plastik akan Dirasakan pada 2050

Jakarta – Sebuah studi dari Universitas Kyusuhu menyatakan polusi plastik di lautan berubah jadi permasalahan global kemudian situasi ini kemungkinan akan semakin menjadi lebih parah apabila tak ada intervensi signifikan.

Pada tahun 2022, kelompok peneliti mencatatkan data sekitar 25,3 jt metrik ton sampah plastik sudah pernah memasuki lautan, kemudian hampir dua per tiga dari jumlah keseluruhan yang dimaksud tidaklah dapat dilacak.

Hasil studi ini terbit dengan judul ‘Reduction scenarios of plastic waste emission guided by the probability distribution model to avoid additional ocean plastic pollution by 2050s’.

“Penelitian saya berfokus pada pelacakan ke mana sampah plastik pergi pasca dibuang ke sumber air seperti sungai dan juga laut,” tulis penulis utama Chisa Higuchi, individu peneliti pascadoktoral pada Lab Isobe, diambil dari platform earth.com, Ahad, 6 Oktober 2024.

Proyeksi menunjukkan bahwa pengurangan jumlah total plastik yang tersebut masuk ke lautan sebesar 32 persen atau sekitar 8,1 jt ton pada 2035, dapat memunculkan pengurangan lebih tinggi dari 50 persen di plastik laut pada tahun 2050. Dampaknya bahkan tambahan signifikan di wilayah yang sangat tercemar, seperti Laut Cina Kuning juga Laut Cina Timur, dalam mana limbah plastik dapat dikurangi hingga 63 persen.

Dasar pemodelan itu adalah hasil pertarungan Forum Taraf Tinggi atau KTT G20 dalam Osaka pada 2019. Para pemimpin planet memperkenalkan visi Laut Biru Osaka, dengan tujuan menghentikan peningkatan polusi plastik laut pada 2050.

Prakarsa itu berfokus pada peningkatan strategi pengelolaan limbah melalui kolaborasi internasional. Tim peneliti ingin mencari tahu skenario ideal agar Visi Osaka Blue Ocean berhasil. “Kami memanfaatkan pemodelan komputasional beserta studi lapangan untuk menyadari pada mana dan juga bagaimana plastik mengalir ke lautan,” ucap Chisa Higuchi.

Sebagai upaya pencegahan, sampah plastik baru memang sebenarnya harus dicegah masuk ke lautan. Target ini dapat dicapai jikalau menggunakan strategi seperti meningkatkan pengelolaan limbah, memasarkan alternatif pemanfaatan kembali untuk plastik sekali pakai, juga meningkatkan kesadaran publik.

Tim peneliti juga mencatat emisi plastik dari perikanan yang tersebut tidak ada diantaranya pada penelitian ini, juga berubah menjadi perhatian utama bagi polusi di dalam laut. Para ahli menekankan bahwa skenario pengurangan sebesar 32 persen semata-mata didasarkan pada plastik yang salah kelola dalam daratan, sehingga diperlukan skenario pengurangan yang dimaksud berbeda untuk sektor perikanan.

Dalam penelitian itu disebutkan, semua permasalahan pengelolaan sampah plastik harus berubah jadi prioritas. “Mengurangi emisi sampah makroplastik dari sungai ke laut adalah solusi terpenting yang tersebut dapat dikelola manusia,” tulis para peneliti di riset tersebut.

Studi ini menyatakan sampah plastik yang tersebut kekal berada pada lingkungan untuk jangka waktu lama, secara bertahap terurai bermetamorfosis menjadi partikel yang mana lebih banyak kecil. Plastik yang digunakan lebih tinggi besar dapat dikumpulkan dan juga dihilangkan dengan tambahan mudah, sedangkan penguraiannya berubah menjadi partikel yang dimaksud lebih tinggi kecil dari 5 milimeter yang dimaksud dikenal sebagai mikroplastik, justru lebih lanjut sulit untuk diambil.

Artikel ini disadur dari Studi Universitas Kyushu Ungkap Pengurangan 32 Persen Limbah Plastik akan Dirasakan pada 2050

Related Articles

Back to top button