Bapanas dorong produktivitas gula ke NTT agar swasembada

Ibukota – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menggerakkan peningkatan produktivitas gula pada Nusa Tenggara Timur (NTT) guna mencapai swasembada nasional, dengan upaya pengembangan lahan, peningkatan teknologi, serta dukungan petani lokal.
"Kami sudah ada melakukan kunjungan ke NTT, untuk meyakinkan langkah-langkah konkret di menyokong percepatan swasembada gula nasional kemudian peningkatan produktivitas gula dalam wilayah NTT," kata Deputi Lingkup Ketersediaan kemudian Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa pada pernyataan ke Jakarta, Minggu.
Astawa menyampaikan bahwa pihaknya melaksanakan kunjungan kerja ke PT Muria Sumba Manis di dalam Sumba Timur, NTT, sebagai komitmen untuk terus memacu produktivitas dan juga meningkatkan rendemen tebu di dalam pabrik itu.
Ia menerangkan, langkah-langkah seperti peningkatan teknologi, optimalisasi lahan, dan juga pengembangan bibit rekayasa genetik untuk memperoleh bibit tebu terbaik dapat berubah menjadi kunci di mencapai target swasembada gula.
"Ini bukan cuma untuk NTT, tetapi juga untuk keperluan gula nasional," ujar Astawa.
Adapun dari catatan Badan Pusat Statistik (BPS), luas areal perkebunan tebu ke NTT pada 2022 ada hingga 1.734 hektare dengan produktivitas mencapai 1.777 ton selama setahun.
Informasi itu mengalami kenaikan signifikan bila dibandingkan tahun 2021 yang pada waktu itu luas areal masih pada nomor 1.491 hektare, namun produktivitas dapat mencapai 5.733 ton.
Astawa menyatakan bahwa pihaknya telah dilakukan mendapat arahan dari Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi agar biosfer gula nasional terus diperkuat, salah satunya dengan meyakinkan panen petani dapat diserap oleh sejumlah pihak, BUMN pangan maupun swasta.
"Kami di dalam Bapanas telah dilakukan memacu itu dengan menetapkan harga jual di tingkat produsen sampai konsumen. Jadi gula di dalam tingkat petani, harganya kita jaga, kemudian sampai dengan di hilir, harganya juga kita jaga dengan baik," sambungnya.
Lebih lanjut, beliau mengutarakan menurut data BPS di 'Statistik Tebu Tanah Air 2022' yang diterbitkan pada November 2023, produksi gula Tanah Air pada 2022 yang tersebut mencapai 2,4 jt ton sebagian besar disokong oleh perkebunan rakyat sebesar 63 persen.
Selebihnya perkebunan swasta 27 persen kemudian perkebunan besar negara 10 persen. Untuk itu, kemitraan dengan para petani tebu rakyat penting diperlukan terus dijalin dengan baik.
Dia mengungkapkan, PT Muria Sumba Manis mulai melakukan penyertaan tebu sejak tahun 2014 serta memulai pembangunan pabrik pada 2018. Saat ini sudah pernah mengatur lahan seluas 34 ribu hektare, dengan 18 ribu hektare pada antaranya sudah ada digunakan untuk produksi.
"Kapasitas produksi pabrik ini mencapai 6 ribu Ton Cane Day (TCD) lalu diharapkan dapat meningkat menjadi 12 ribu TCD pada fase selanjutnya," ungkapnya.
Organisasi itu juga miliki target perluasan lahan sebesar 4.905 hektare di dalam tahun 2024, dengan target minimal penambahan lahan 1.000 hektare setiap tahunnya.
Selain fokus pada perluasan lahan, pemerintah melalui Bapanas juga mengupayakan peningkatan rendemen tebu. Tahun 2024, PT Muria Sumba Manis berusaha mencapai rendemen mencapai persen, pasca sebelumnya mencapai 8,3 persen.
"Untuk rencana jangka panjang, target rendemen diharapkan dapat mencapai 11 hingga 12 persen," terangnya.
Ia juga mengatakan, pemerintah akan terus memberikan dukungan pada bentuk kebijakan untuk melakukan konfirmasi peningkatan produktivitas dan juga kualitas hasil panen, sehingga sumbangan PT Muria Sumba Manis terhadap swasembada gula nasional dapat semakin optimal.
"Langkah-langkah ini diharapkan dapat menguatkan kedudukan NTT di memperkuat ketersediaan gula nasional," katanya.
Artikel ini disadur dari Bapanas dorong produktivitas gula di NTT agar swasembada






