Eropa pada Bidikan Tarif Trump, Balasannya Bisa Tak Terduga

Fibingunp – JAKARTA – Rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengenakan tarif baru terhadap Uni Eropa dapat memicu pembalasan dengan cara yang digunakan tak terduga bukanlah dengan mengenakan pajak terhadap barang-barang Amerika, tetapi dengan membidik dominasi perusahaan-perusahaan teknologi Negeri Paman Sam pada kegiatan ekonomi digital Eropa.
Gagasan tersebut, yang dimaksud diuraikan di laporan Goldman Sachs yang dirilis pada Hari Senin (10/2) menunjukkan bahwa daripada menanggapi dengan bea balik modal berhadapan dengan ekspor AS, Brussels dapat mengeksploitasi defisit perdagangannya yang digunakan terus meningkat di tempat bidang jasa. Dengan membatasi layanan digital Amerika, Uni Eropa (UE) dapat menyerang sektor yang digunakan menghasilkan kembali miliaran pendapatan dari lingkungan ekonomi Eropa.
Ekonom Goldman Sachs, Giovanni Pierdomenico juga Filippo Taddei, menyatakan dia memperkirakan bahwa Negeri Paman Sam akan meninggikan bea masuk untuk ekspor mobil Eropa sebesar 25% juga memberlakukan tarif 10% untuk berbagai macam impor penting, mulai dari logam serta mineral hingga obat-obatan. Langkah ini, menurut perkiraan mereka, dapat berdampak pada ekspor Uni Eropa senilai USD190 miliar, atau sekitar 40% dari total pengiriman blok yang dimaksud ke AS.
Jika tarif diberlakukan, Goldman Sachs memperkirakan respons Uni Eropa akan menyerupai strategi yang dimaksud digunakannya pada 2018, ketika Trump pertama kali berusaha mencapai baja dan juga aluminium Eropa. Pada pada waktu itu, Brussels membalas dengan bea masuk melawan produk-produk utama Negeri Paman Sam termasuk wiski bourbon lalu sepeda gowes motor yang digunakan mencakup sekitar 40% dari ekspor Uni Eropa yang mana terkena dampak.
Putaran kedua tarif sudah disiapkan tetapi tak pernah diterapkan, mengantisipasi langkah Organisasi Perdagangan Dunia. Kali ini, Uni Eropa kemungkinan akan melangkah dengan hati-hati.
“Kami memperkirakan Uni Eropa akan mengupayakan de-eskalasi ketegangan perdagangan sebanyak mungkin saja lalu menggunakan pembalasan yang mana kuat belaka sebagai pilihan terakhir,” kata para ekonom disitir dari Euronews, Selasa (11/2/2025).
Konflik Baru
Tidak seperti tahun 2018, Uni Eropa sekarang ini memiliki alat tambahan yang dimaksud dapat digunakan Instrumen Anti-Paksaan (ACI), sebuah mekanisme yang dirancang untuk melawan tekanan perekonomian dari negara ketiga.
ACI, yang dimaksud memberikan Brussels wewenang untuk memberlakukan tarif dan juga membatasi akses ke bursa Eropa sebagai tanggapan menghadapi langkah-langkah perdagangan yang mana bersifat memaksa, dapat memberikan kerangka kerja untuk bertindak melawan Washington.
Salah satu area yang digunakan dapat menjadi sorotan adalah perekonomian digital. Meskipun Uni Eropa menikmati surplus perdagangan barang yang tersebut signifikan dengan AS, Uni Eropa mengalami defisit perdagangan tahunan sebesar hampir €150 miliar pada bidang jasa setengah dari surplus barangnya.






