Lifestyle

Kenali ciri-ciri “people pleaser” sebelum terdampar pada kebiasaan ini

Ibukota Indonesia – Ada kalanya seseorang merasa harus terus berkata “ya” demi menyimpan hubungan masih baik dengan pendatang lain.

Mulai dari menyetujui pendapat yang tersebut sebenarnya tidaklah terlalu diyakini, sampai mengiyakan permintaan yang tersebut menyebabkan lelah, semata-mata dikarenakan takut mengecewakan. Sekilas, sikap ini terlihat sebagai bentuk kepedulian.

Tapi tanpa disadari, kebiasaan yang dimaksud mampu berprogres jadi sesuatu yang tersebut rumit juga melelahkan.

Keinginan untuk setiap saat menyebabkan pemukim lain senang rutin kali dibungkus dengan niat yang digunakan terlihat baik ingin membantu, menjaga hubungan kekal harmonis, atau takut dianggap egois.

Namun, di balik sikap yang digunakan terlihat ramah kemudian penuh perhatian itu, tak jarang tersimpan rasa lelah, cemas bahkan kehilangan arah di menjalani hidup. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini sanggup berpengaruh besar terhadap kesejahteraan mental.

Apa itu people pleaser?

People pleaser sebenarnya bukanlah istilah medis, melainkan istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang digunakan miliki kecenderungan untuk setiap saat menyenangkan penduduk lain, meskipun harus mengorbankan permintaan juga keinginannya sendiri.

Sangat wajar apabila kita ingin disukai juga diterima, apalagi pada lingkungan sosial yang dekat. Namun, berbeda dengan sikap tolong-menolong sesekali, berubah jadi people pleaser adalah pola yang dimaksud sulit dihentikan.

Orang dengan kecenderungan ini biasanya merasa tidak ada enak apabila harus menolak sesuatu, menyembunyikan perasaannya, atau terlalu berbagai menyetujui hal-hal yang digunakan sebenarnya tiada sejalan dengan dirinya.

Meskipun bisa jadi memproduksi khalayak lain senang, kebiasaan ini banyak kali justru melelahkan secara emosional. Orang yang dimaksud terlalu rutin memprioritaskan keinginan khalayak lain akhirnya jarang punya waktu dan juga ruang untuk dirinya sendiri.

Ciri-ciri people pleaser

Beberapa tanda umum dari perilaku people-pleasing antara lain:

  • Sulit berkata “tidak”
  • Terlalu memikirkan pendapat penduduk lain
  • Merasa bersalah jikalau menolak permintaan penduduk lain
  • Takut dianggap jahat atau egois
  • Menyetujui hal-hal yang tersebut tak diinginkan
  • Merasa rendah diri
  • Sering memohonkan maaf, bahkan pada waktu tidak ada bersalah
  • Mengambil tanggung jawab berhadapan dengan kesalahan yang bukanlah miliknya
  • Selalu sibuk membantu warga lain hingga tak punya waktu luang
  • Mengabaikan permintaan pribadi demi penduduk lain
  • Berpura-pura setuju agar bukan mengakibatkan konflik

Dampak people-pleasing terhadap kebugaran mental

Menjadi penduduk yang peduli lalu perhatian tentu tidak hal buruk. Namun, apabila dilaksanakan berlebihan serta terus-menerus, perilaku ini bisa saja menghadirkan dampak negatif pada kesejahteraan mental, seperti:

  • Marah juga frustrasi: Ketika terus memberi tanpa pamrih, tapi merasa tidak ada dihargai, perasaan kecewa serta kesal dapat muncul baik terhadap pendatang lain maupun diri sendiri.
  • Cemas serta stres: Menyibukkan diri untuk memenuhi ekspektasi pemukim lain dapat menimbulkan energi fisik dan juga mental terkuras habis.
  • Kehilangan kemauan diri (willpower): Fokus berlebihan pada kebahagiaan pendatang lain dapat menghurangi kemampuan untuk menetapkan lalu mengejar tujuan pribadi.
  • Kehilangan jati diri: Terlalu banyak menyembunyikan pendapat atau perasaan demi menyenangkan khalayak lain mampu menyebabkan seseorang merasa terpencil dari dirinya sendiri.
  • Hubungan tiada seimbang: Ketika hanya sekali satu pihak yang digunakan terus memberi, hubungan pun bisa saja bermetamorfosis menjadi timpang. Lama-kelamaan, ini memunculkan rasa bukan dihargai atau bahkan dimanfaatkan.

Artikel ini disadur dari Kenali ciri-ciri “people pleaser” sebelum terjebak dalam kebiasaan ini

Related Articles

Back to top button